3v3 Jadi Format Unik di Campus League Badminton
Format latihan naik level jadi kompetisi

Campus League menghadirkan warna berbeda dalam kompetisi badminton antarkampus melalui nomor 3v3 atau triple. Format ini menjadi salah satu inovasi yang membedakan Campus League dari kompetisi bulu tangkis pada umumnya.
Head of Competition Campus League, Dave Leopold, menjelaskan 3v3 bukan format yang dibuat secara tiba-tiba. Nomor tersebut justru berangkat dari pola latihan yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah pertandingan.
“3v3 atau triple atau 3 on 3 itu sebenarnya adalah format latihan pemain yang sudah dilakukan,” ujar Dave dalam press conference di Media Center Campus League, GOR KONI Bandung, Rabu (16/9).
.jpg)
Head of Competition Campus League, Dave Leopold, dalam press conference di Media Center Campus League, GOR KONI Bandung, Rabu (16/9).
Menurutnya, ide untuk menjadikan 3v3 sebagai nomor kompetisi muncul setelah melihat pola permainan tiga lawan tiga dalam latihan. Dari situ, format tersebut mulai dikembangkan agar dapat diterapkan dalam pertandingan resmi.
“Ketika 2012, Pak Ryan (Ryan Gozali, CEO Campus League) melihat ada pemain 3 lawan 3 di lapangan. Dia tanya sama saya, ‘Dev, ini bisa dikompetisikan gak?’ Selama saya dapat approve dari federasi, kenapa enggak?” tutur Dave.
Sejak saat itu, 3v3 mulai menjadi salah satu varian yang dikembangkan. Campus League kemudian menjadikannya sebagai bagian dari nomor pertandingan dalam kompetisi badminton antarkampus.

Dave menyebut format ini memiliki daya tarik tersendiri karena belum umum ditemui dalam kompetisi bulu tangkis lainnya.
“Dari sejak 2012 sebenarnya Pak Ryan sudah membuat format 3v3, 3 on 3 atau triple. Nah, inilah yang bikin menarik di badminton antarkampus,” katanya.
Keunikan tersebut juga membuat nomor 3v3 menjadi sesuatu yang mudah diperbincangkan. Sebab, permainan tiga lawan tiga membutuhkan pembagian peran yang berbeda dibandingkan nomor ganda.
“Kalau teman-teman lihat, ada kejadian lucu terkadang. Pemain yang di depan itu cuma nunduk, yang main di belakang itu yang tepok-tepok,” kata Dave sambil menggambarkan dinamika pertandingan.

Namun, di balik keseruan tersebut, Dave menegaskan bahwa 3x3 tetap memiliki aspek taktik yang harus diperhatikan setiap pemain.
“Pada dasarnya kalau secara kompetisi kami melihat semua punya peran, semua punya tugasnya. Yang di depan ngapain, yang di belakang ngapain,” ujarnya.
Format ini sekaligus memberikan peluang bagi kampus yang memiliki jumlah pemain cukup banyak untuk menurunkan lebih banyak atlet. Campus League tidak hanya ingin memberi ruang kepada pemain unggulan, tetapi juga membuka kesempatan bagi mahasiswa lain untuk mendapatkan pengalaman bertanding.
“Para kampus yang tadinya punya pemain pas-pasan, tapi dengan adanya nomor baru mereka bisa ambil nomor tersebut,” jelas Dave.
Bagi Dave, pengalaman bertanding dalam format 3v3 juga memberikan jam terbang sekaligus pengalaman bermain sebagai sebuah tim.
“Secara jam terbang, secara bermain secara tim, lebih seru di triple,” katanya.
Karena karakter tersebut, 3v3 dipastikan tetap menjadi bagian dari Campus League. Dave menyebut format tersebut akan terus dipertahankan sebagai salah satu identitas kompetisi.
“Kalau ditanya ke depannya bakal ada atau enggak, pasti ada,” tegasnya.
Bahkan, Campus League menempatkan triple sebagai bagian dari format utama kompetisi badminton mereka bersama tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran di kategori individu.
“Selama 30 tahun format kompetisi Badminton Campus League pasti seperti ini,” pungkas Dave. (DT)

