
Widya Aninditya saat bertanding di Regional Semarang. (Foto: Jaya Pratama/Campus League)
Raden Roro Widya Aninditya sudah mengenal badminton sejak duduk di kelas 1 SD. Berawal dari coba-coba, olahraga tersebut perlahan menjadi sesuatu yang mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini tekuni hingga membawanya bergabung dengan PB Djarum dan tampil di berbagai kompetisi.
Anin, sapaan akrabnya, mulai rutin berlatih setelah merasa memiliki ketertarikan pada badminton. Ia kemudian mencoba mengikuti sejumlah pertandingan. Hasilnya cukup membuatnya percaya diri. Beberapa kali tampil, Anin mampu meraih juara. Sejak saat itu, ia mulai serius mengejar prestasi melalui badminton.
“Awalnya dari kelas satu SD, cuma coba-coba. Terus lama-lama rutin latihan, mulai ikut pertandingan, eh ternyata juara. Dari situ saya mulai serius menekuni badminton,” kata Anin.
Keseriusan Anin berlanjut dengan mengikuti Audisi Umum PB Djarum. Kesempatan pertama belum berhasil. Ia gagal lolos, tetapi tidak berhenti mencoba dan kembali mengikuti audisi untuk kedua kalinya.
Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Anin lolos dan bergabung dengan PB Djarum pada 2016. Sejak saat itu, badminton menjadi bagian utama dalam kesehariannya.
Kesempatan tersebut juga membuat Anin harus meninggalkan Yogyakarta dan pindah ke Kudus. Ia melanjutkan sekolah sambil mengikuti program latihan yang padat bersama PB Djarum.
Rutinitas sebagai atlet muda tidak ringan. Latihan berlangsung sejak pagi hingga malam, bergantung pada jadwal yang didapat. Satu hari bisa diisi dua sesi latihan.
“Kalau latihan pagi itu dari jam 7 sampai jam 9, kadang juga mulai dari jam 5 sampai jam 9. Kalau latihan siang itu jam 9 sampai jam 1, lalu sore. Kalau dapat jadwal latihan pagi, sorenya jam 3 sampai jam 6. Kalau latihan siang, sorenya jam 6 sampai jam 9 atau 10 malam,” ujar Anin.
Bertahun-tahun menjalani rutinitas tersebut memberi Anin banyak pengalaman. Ia tidak hanya belajar meningkatkan kemampuan bermain, tetapi juga memahami sikap dan mental yang dibutuhkan sebagai seorang atlet.

Widya Aninditya saat membela UNY di Badminton Campus League Regional Semarang Season 1. (Foto: Jaya Pratama/Campus League)
Pengalaman bersama PB Djarum juga menghasilkan sejumlah prestasi. Anin pernah meraih gelar Sirkuit Nasional serta tampil dalam kompetisi internasional. Salah satunya terjadi pada 2019 dalam ajang yang berlangsung di Bintaro, Jakarta.
Anin mengakhiri perjalanannya bersama PB Djarum pada 2020. Setahun kemudian, ia melanjutkan karier bersama klub Mutiara dan kembali meraih gelar Sirkuit Nasional pada 2023.
Kesibukan sebagai atlet akhirnya membawa Anin pada pilihan berikutnya. Ia melanjutkan pendidikan di UNY melalui jalur prestasi. Kini, akademik menjadi prioritas utama, sementara badminton tetap dijalani sebagai bagian dari aktivitasnya.
“Kalau saat ini lebih pentingkan akademik, karena badminton sudah susah ngejarnya, sudah enggak ada yang dikejar. Jadi sudah fokus ke pendidikan,” tuturnya.
Menjalani peran sebagai mahasiswa sekaligus atlet membuat Anin harus pintar mengatur waktu. Perkuliahan biasanya berlangsung dari pagi hingga sore. Latihan kemudian dilakukan setelah kelas selesai.
Fakultas Ilmu Keolahragaan yang dipilihnya juga membuat aktivitas tersebut lebih mudah dijalani. Anin tetap bisa menjaga rutinitas latihan tanpa mengesampingkan kewajibannya sebagai mahasiswa.
Kesibukan Anin kini tidak hanya sebagai pemain. Ia mulai terjun ke dunia kepelatihan dengan melatih di Istimewa Badminton Club, Yogyakarta. Aktivitas tersebut dilakukan di sela-sela kuliah, biasanya pada malam hari.
Pengalaman sebagai atlet menjadi modal bagi Anin untuk mengenal dunia kepelatihan. Karena itu, setelah menyelesaikan pendidikan, ia mulai mempertimbangkan untuk melanjutkan karier sebagai pelatih.
“Mungkin jadi pelatih, soalnya sekarang juga sambil kuliah saya main, juga ngelatih,” kata Anin.
Campus League Regional Semarang juga menjadi pengalaman penting bagi Anin. Kompetisi ini memberinya kesempatan kembali merasakan atmosfer pertandingan besar dengan membawa nama kampus.
Menurut Anin, atmosfer Campus League terasa berbeda dari pertandingan kampus pada umumnya. Persaingan dan tekanan pertandingan membuatnya kembali merasakan suasana seperti ketika tampil di Sirkuit Nasional.
“Harapannya bisa berlanjut ke depannya, bisa lebih kayak gini lagi. Banyak mahasiswa baru yang setelah keluar dari klub besar pasti pengin main kayak gini. Mereka bisa ngerasain feel-nya kayak main Sirnas lagi. Ini benar-benar kayak main Sirnas versi mahasiswanya,” tukasnya.
Anin masih akan tampil pada hari terakhir Regional Semarang, Sabtu (29/8). Ia membela UNY pada nomor 3v3 bersama yang akan menghadapi Universitas Negeri Semarang (Unnes) bersama Ryan Wicaksono, M. Ramadhani, dan Ayu Dian Pertiwi. (GAP)
Campus League 2026 merupakan platform kompetisi olahraga, akademik, dan pengembangan komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia. Kami menyelenggarakan turnamen antar-perguruan tinggi nasional untuk cabang olahraga futsal, bola basket, dan bulu tangkis (badminton), serta kompetisi seni kreatif (art competition). Melalui program pembinaan student-athlete, kami fokus menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan performa akademis di ruang kelas.
Setiap partisipan diwajibkan memenuhi kriteria indeks prestasi kumulatif (IPK) minimum dan menyelesaikan aksi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi bersama berbagai universitas terbaik di Indonesia dan didukung oleh sponsor terkemuka, kami berkomitmen melahirkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berintegritas tinggi, berjiwa sosial, dan siap bersaing di kancah profesional dunia kerja.