Brawijaya Berjuang di Tengah Ujian dan Perjalanan
Perjalanan Malang–Surabaya kuras stamina pemain

Para student-athlete Universitas Brawijaya (UB) Malang, tetap bela almamater di tengah tuntutan akademik. (Foto: Jaya Pratama/Campus League)
Menjalani ujian di kampus sekaligus bertanding di Campus League di saat yang bersamaan, bukan perkara mudah bagi para student-athlete Universitas Brawijaya (UB) Malang.
Di tengah tuntutan akademik, mereka harus menempuh perjalanan pergi-pulang Malang–Surabaya untuk membela almamater. Kondisi itu ikut memengaruhi stamina dan konsistensi permainan tim futsal putra UB di Campus League Futsal Regional Surabaya Season 1.
Tantangan tersebut terlihat dalam dua pertandingan awal UB di GOR Pertamina ITS. Setelah kalah 0-2 dari Universitas Negeri Malang (UM) dalam Derby Malang, UB kembali menelan kekalahan saat menghadapi Universitas Surabaya (Ubaya). Mereka menyerah 1-3 dalam laga Grup A, Kamis (15/10).
Pelatih UB, Luky Bakhrul Nizar, mengatakan perjalanan yang harus ditempuh para pemain menjadi salah satu kendala utama. Sebagian pemain menggunakan sepeda motor, bus, maupun kereta untuk pergi-pulang Malang–Surabaya. Pada saat bersamaan, mereka juga harus mengikuti ujian dengan jadwal berbeda sesuai fakultas masing-masing.
“Ya mungkin problem dari pemain yang banyak terkuras tenaga karena banyak yang PP (pergi-pulang) dari Malang ke Surabaya dan sebaliknya, ini mempengaruhi stamina sama konsistensi pemain, jadi kurang (maksimal) gitu loh saat pertandingan,” ujar Luky.

Pelatih UB, Luky Bakhrul Nizar memberi semangat anak asuhnya di GOR Pertamina ITS, Kamis (15/10). (Foto: Jaya Pratama/Campus League)
Benturan jadwal akademik yang sedang melaksanakan pekan ujian tengah semester membuat beberapa pemain harus absen untuk pertandingan kedua. Bagi Luky, situasi ini menuntut pelatih untuk memahami kebutuhan pemain sebagai mahasiswa sekaligus atlet. Mengejar prestasi olahraga tetap penting, tetapi pendidikan tidak boleh dikorbankan.
“Jadi ikutnya kami di Campus League ini ya harus disadari sebagai seorang student-athlete. Menjadi atlet dan kuliah, harus sama-sama dapat. Jadi sebagai pelatih di sini juga harus bisa mengimbangi, kami tidak bisa fokus ke futsal saja karena nanti di akademiknya berisiko nilai kurang atau mengulang,” katanya.
Selain faktor kelelahan, Luky mengakui persiapan timnya belum maksimal. Komunikasi antarpemain masih perlu diperbaiki, sementara kesalahan yang muncul pada pertandingan pertama kembali terulang saat melawan Ubaya. UB pun harus membayar mahal kesalahan tersebut dengan kebobolan gol.
“Dari segi persiapan saja kami masih benar-benar kurang. Komunikasinya terlihat belum benar-benar terjaga dengan baik. Match pertama kami banyak kesalahan dan kami bisa benahi di pertandingan kedua. Dan meskipun di pertandingan kedua dengan kesalahan yang sama kami kena hukum dengan gol yang persis prosesnya seperti di pertandingan pertama,” tutur Luky.
Meski hasil belum sesuai harapan, Luky tetap mengapresiasi semangat anak asuhnya yang berusaha menjalankan tanggung jawab akademik tanpa meninggalkan kompetisi. Ia juga menilai Campus League memberikan pengalaman berharga bagi timnya, termasuk soal kedisiplinan, ketepatan waktu, registrasi pemain, hingga kelengkapan pertandingan.
“Kami datang ke Campus League setidaknya kejar prestasi yang maksimal dan enggak memalukan nama almamater. Namun saya juga mengapresiasi semangat teman-teman juga yang mau tetap hadir ikut kompetisi meskipun di saat yang sama berjuang dengan ujian kampus,” tutupnya. (DT)

