Campus League Ingin Ubah Wajah Badminton Kampus
Dari kompetisi mahasiswa menuju budaya olahraga kampus

CEO Campus League Ryan Gozali dan Sekretaris Jenderal PP PBSI Ricky Soebagdja dalam konferensi pers seusai final Regional Bandung di Media Center Campus League, GOR KONI Bandung, Jumat (18/09). (Foto: Fahmi Abdushshofi/Campus Legue)
Badminton memiliki basis pemain yang besar di Indonesia, tetapi kekuatan itu belum sepenuhnya tercermin di lingkungan perguruan tinggi. Dibandingkan basket dan futsal yang telah memiliki budaya kompetisi kampus lebih kuat, badminton masih membutuhkan ruang untuk berkembang.
Campus League mencoba mengisi celah tersebut dengan membangun kompetisi yang konsisten sekaligus menciptakan budaya baru di lingkungan mahasiswa.
CEO Campus League, Ryan Gozali, mengakui membangun ekosistem tersebut bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam satu musim. Campus League yang memasuki tahun pertama penyelenggaraan masih harus memperluas jumlah kampus dan peserta agar kompetisi berkembang secara alami.
“Kita sadar budaya bulu tangkis kampus memang belum terbentuk dengan solid mungkin dibandingkan dengan olahraga-olahraga lain seperti basket atau futsal yang sudah sangat masif,” ujar Ryan dalam konferensi pers seusai final Regional Bandung di Media Center Campus League, GOR KONI Bandung, Jumat (18/09).

CEO Campus League Ryan Gozali dan Sekretaris Jenderal PP PBSI Ricky Soebagdja bicara ekosistem badminton kampus dan regenerasi student-athlete dalam konferensi pers seusai final Regional Bandung di Media Center Campus League, GOR KONI Bandung, Jumat (18/09). (Foto: Fahmi Abdushshofi/Campus Legue)
Karena itu, Campus League tidak hanya melihat kompetisi sebagai pertandingan untuk menentukan siapa yang menjadi juara. Keberlanjutan menjadi bagian penting untuk membuat mahasiswa dan kampus mulai menjadikan badminton sebagai bagian dari aktivitas olahraga mereka.
Ryan mengatakan, konsistensi penyelenggaraan diharapkan membuat kampus mulai mempersiapkan atletnya lebih serius untuk musim berikutnya.
“Saya percaya kalau memang kita konsisten menjalankan, pasti kampus juga akan mengejar mereka, merekrut lebih banyak dan mungkin kampus-kampus yang tadinya masih belum ikut, setelah melihat ajang ini sudah berjalan dan mungkin mereka melihat kita serius mengerjakannya, dari sekarang mereka sudah mau persiapkan untuk tahun depan,” katanya.
Tantangan tersebut terlihat dari penyelenggaraan tahun pertama. Di sejumlah pertandingan, jumlah pemain masih terbatas dan beberapa mahasiswa harus turun di lebih dari satu nomor. Namun, kondisi itu justru menjadi gambaran awal mengenai pekerjaan rumah yang harus dibangun bersama antara penyelenggara dan perguruan tinggi.
Campus League berharap partisipasi dapat meningkat pada musim berikutnya. Setelah menggelar regional di Semarang dan Bandung, ekspansi ke Jakarta maupun Surabaya menjadi salah satu kemungkinan yang sedang dibuka.
“Harapan kami sekarang sudah jalan di Semarang dan di Bandung. Mungkin tahun depan minimal Jakarta ada ekspansi atau mungkin Surabaya diekspansi atau dua-duanya itu tidak tertutup kemungkinan,” tutur Ryan.

Dua tim Badminton kampus kategori beregu, Binus University ( Abu-abu/Berdiri), dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) (Merah/Jongkok) dalam final Badminton Regional Bandung Campus League Season 1 di GOR KONI Bandung, Jumat (18/9). Dalam final itu Binus menjadi juara usai menang dengan skor 2-1. (Foto: Fahmi Abdushshofi/Campus Legue)
Dukungan Penuh PBSI untuk Campus League
Dukungan terhadap pembangunan ekosistem tersebut juga datang dari Sekretaris Jenderal PP PBSI, Ricky Soebagdja. Menurut Ricky, kompetisi kampus memberikan pengalaman berbeda karena mahasiswa tidak hanya bertanding sebagai individu, tetapi membawa identitas universitas.
Hal itu, menurutnya, terlihat jelas dalam pertandingan beregu di Bandung. Semangat untuk membela kampus membuat pertandingan berlangsung kompetitif sekaligus membangun rasa kebersamaan antarmahasiswa.
“Kekompakan masing-masing kampus ini juga tadi sangat terlihat. Jadi saya rasa ini sangat baik bagi kampus itu sendiri untuk bisa mahasiswa atau peserta ini menunjukkan semangatnya,” kata Ricky.
Format pertandingan seperti 3-on-3 dan sistem 55 poin juga menjadi bagian dari upaya Campus League menciptakan pengalaman berbeda. Ricky menilai inovasi tersebut dapat membuat pertandingan badminton kampus lebih menarik untuk diikuti maupun ditonton.
“Ini bagaimana menyemarakkan kegiatan ini, khususnya juga di Campus League. Saya rasa ini untuk menarik, untuk bisa ditonton, dinikmati,” ujarnya.
Bagi Ricky, jika kompetisi terus berjalan, mahasiswa akan memiliki alasan untuk berlatih lebih serius. Event yang semula menjadi ajang pertandingan dapat berkembang menjadi agenda yang dinantikan setiap tahun.
“Mereka nantinya ini satu, eventnya ditunggu-tunggu. Yang kedua pasti persiapannya juga lebih baik, mereka latihan dan lain sebagainya,” kata Ricky.
Keduanya sepakat, target jangka panjang Campus League akan menjadikan badminton sebagai salah satu olahraga pilar di kampus, dengan kompetisi yang rutin, peserta yang terus bertambah, serta mahasiswa yang memiliki alasan untuk terus berlatih dan berkembang. (DT)