Campus League Tempa Student-Athlete Sebelum Naik Level Pro
Klub dan federasi ikut mendukung ekosistem kompetisi

Head of Competition Campus League, Dave Leopold menjawab tantangan dan jaminan mengenai student-athlete Badminton di Campus League sebagai wadah kompetisi para student-athlete di Nusantara selama 30 tahun kedepan.
Baginya, Campus League tidak hanya menjadi panggung kompetisi bagi student-athlete. Kompetisi antarkampus ini juga diarahkan menjadi salah satu tahapan penting bagi atlet badminton sebelum melangkah ke level profesional.
Jalur atlet badminton menuju level profesional masih membutuhkan wadah kompetisi yang berkelanjutan. Berbeda dengan basket dan futsal yang telah memiliki kompetisi liga profesional, badminton belum memiliki liga dengan format serupa.
“Badminton tidak ada liga pro di Indonesia. Basket ada IBL, futsal ada PFL. Tapi kalau kita ngomong badminton, mereka langsung ranking, main di PWF dan lain-lain,” ujar Dave dalam press conference di Media Center Campus League, GOR KONI Bandung, Rabu (16/9).
Kondisi tersebut menjadi perhatian ketika atlet junior menyelesaikan pendidikan sekolah dan memasuki perguruan tinggi. Mereka membutuhkan ruang untuk tetap bertanding sembari melanjutkan pendidikan.
“Ketika pemain-pemain lepasan Sirnas lulus sekolah, kuliah, dia mau main apa? Lari ke klub. Tapi kan klub hanya sebatas klub, tapi dia butuh kuliah,” katanya.
Campus League disebutkan kemudian hadir sebagai wadah tambahan bagi atlet yang tetap ingin berkompetisi sambil menjalani pendidikan tinggi. Dave menyebut klub juga memberikan dukungan karena kompetisi antarkampus memberikan pengalaman bertanding yang berbeda.
“Klub sangat support karena mereka melihat ini adalah jam terbang baru, wadah baru buat mereka selain main di klub,” ujarnya.
Bagi Dave, pengalaman bertanding atas nama kampus juga memberikan tantangan tersendiri bagi atlet. Ada kebanggaan yang dibawa ketika mereka tampil mewakili perguruan tinggi.
“Ketika kamu main antarkampus, ada pride yang harus kamu bawa,” tutur Dave.
Karena itu, Dave justru meminta student-athlete tidak terburu-buru mengejar level profesional apabila belum benar-benar siap.
“Kamu enggak usah naik pro dulu sebelum kuliahmu selesai. Kenapa? Karena belum tentu kamu matang di pro. Masih setengah matang,” katanya.
Menurutnya, fase di perguruan tinggi dapat dimanfaatkan atlet untuk memperbanyak pertandingan, membangun pengalaman, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tuntutan level berikutnya.
“Mendingan kamu puas-puasin dulu main di kampus. Kamu dapat dulu matang sehingga kamu naik ke pro, kamu sudah siap untuk tingkat selanjutnya,” lanjutnya.
Dukungan terhadap jalur tersebut juga datang dari federasi. Dave mengatakan Campus League telah berkoordinasi dengan PBSI, termasuk terkait perangkat pertandingan yang terlibat dalam kompetisi.
“Federasi, klub, sangat mendukung dengan adanya Campus League. Kami juga terima kasih sama mereka, mereka sudah mengizinkan pemainnya untuk bisa bermain di Campus League,” ujarnya.
Bagi Dave, keberlanjutan Campus League hingga 30 tahun ke depan bukan hanya soal mempertahankan sebuah kompetisi. Ada ekosistem yang harus terus tumbuh dan beregenerasi.
“Campus League itu tidak hanya berfokus pada student-athlete, tapi kami mau semua ekosistemnya bergerak. Pemainnya bergerak, pelatihnya berkembang, perangkat pertandingannya berkembang,” tuntas Dave. (DT)

