Di Balik Raket Prawesti, Ada Perjuangan Ibunda
Maria Shinta Dampingi Prawesti Sejak Usia Dini
Unggulan kedua Regional Bandung, Maria Veronica Ngadien Pramesti dari Universitas Padjadjaran (Unpad) bersama sang ibu yang selalu menemaninya, Maria Shinta, di GOR KONI Bandung, Selasa (15/9). (Foto: Fahmi Abdushshofi/Campus League)
Di salah satu bangku penonton di GOR KONI Bandung, Selasa (15/9), Maria Shinta kembali menjalankan peran yang sudah begitu akrab baginya: menjadi ibu sekaligus pendamping perjalanan seorang atlet.
Bukan sehari atau dua hari. Sudah sekitar 13 tahun Maria menemani putrinya, Maria Veronica Ngadien Prawesti atau Prawesti, menekuni badminton.
Perjalanan itu bahkan dimulai ketika Prawesti belum tahu olahraga apa yang kelak akan menjadi bagian besar dalam hidupnya.
“Kalau untuk olahraga ya dia sebetulnya sudah dikenalkan dari usia 4-5 tahun. Cuma tidak hanya badminton. Waktu itu ada berenang, badminton juga, kemudian baru setelah SD dengan taekwondo,” cerita Maria.
Tiga olahraga tersebut dijalani Prawesti hingga kelas 5 SD. Ketika mulai menghadapi persiapan ujian, orang tuanya meminta Prawesti menentukan pilihan. Bukan karena olahraga lain tidak memiliki peluang, tetapi karena ia perlu mulai fokus.
Pilihan Prawesti jatuh kepada badminton
Sejak awal, bakat itu juga sudah terlihat oleh pelatih. Prawesti bahkan sudah menunjukkan ketertarikan pada bulu tangkis sejak usia tiga tahun, ketika sang ayah kerap mengajaknya ke GOR.
“Papahnya kan memang seneng bulu tangkis. Nah, dari kecil tuh sebetulnya dari 3 tahun sering diajak ke GOR. Sebetulnya dari 3 tahun dia juga udah pengen latihan,” tutur Maria.
Awalnya, pelatih menilai usia tiga tahun masih terlalu dini. Namun, sang ayah tetap mengenalkan permainan itu di rumah. Ketika berusia empat tahun, kemampuan Prawesti mulai terlihat dan pelatih pun melihat ada sesuatu yang berbeda. “Pelatih juga bilang, ‘Bu ini Prawesti ada bakat untuk bulu tangkis.’”
Dari situlah perjalanan panjang tersebut dimulai.
Ketika Prawesti benar-benar serius menekuni bulu tangkis pada usia 10 tahun, dukungan keluarga pun berubah menjadi pendampingan penuh. Maria bahkan mengambil keputusan untuk meninggalkan pekerjaannya.
“Kalau saya iya. Sejak dia mau serius fokus di bulu tangkis, kelas 5 SD, akhirnya saya resign dari pekerjaan,” katanya.
Keputusan itu bukan sekadar soal menemani latihan. Maria dan suaminya harus ikut mengatur waktu sekolah, latihan, pertandingan hingga kebutuhan Prawesti sebagai atlet muda. Bahkan sampai pindah rumah, dari Bogor ke Bandung.
Saat memasuki SMP dan SMA, Prawesti kemudian menjalani homeschooling agar jadwal pendidikan dapat lebih fleksibel mengikuti aktivitas olahraganya.
Namun, satu hal yang selalu dijaga Maria adalah jangan sampai ambisi orang tua mengambil alih perjalanan anak.
“Namanya orang tua, mau pengen ya anaknya juara ya. Cuman akhirnya dengan perjalanan waktu kita juga sadar, oh iya tiap anak itu kan prosesnya berbeda-beda,” ujarnya.
Karena itu, Maria memilih melihat perkembangan Prawesti dari prosesnya, bukan semata-mata dari jumlah gelar.
“Biarlah itu mengikuti waktunya dia, proses matengnya dia. Itu yang penting grafiknya terus naik.”
Prinsip yang sama diterapkan ketika Prawesti mulai menjalani perjalanan pendidikan tinggi. Ia diterima di perguruan tinggi melalui jalur prestasi, kemudian sempat mengambil cuti setelah mendapat kesempatan berlatih bersama Pelatnas.
Setelah itu, Prawesti memilih satu jalan yang tidak mudah: kuliah tetap berjalan, karier sebagai atlet profesional juga dilanjutkan.
“Prawesti memutuskan, ‘Aku mau kuliah tetap jalan, bulu tangkis juga tetap jalan.’ Ya sudah kami dukung, ayo saya bilang gitu. Makanya sampai sekarang ini,” kata Maria.
Bahkan ketika Prawesti merasa lelah atau tugas kuliahnya sedang menumpuk, orang tuanya tidak memaksakan latihan.
“Kalau misalnya Prawesti bilang, ‘Aku capek,’ atau misalnya banyak tugas, saya bilang latihannya untuk hari ini misalnya tidak latihan dulu. Tapi dia fokus kerjakan tugas sambil rehat, istirahat. Kita sih enggak masalah.”
Bagi Maria, mendampingi anak bukan berarti selalu berada di depan untuk menentukan arah. Kadang, peran orang tua justru berada di samping,mendengarkan, memberi ruang, kemudian siap kembali mendukung ketika anak memilih melangkah.
Pandangan itu pula yang membuat Maria menyambut positif hadirnya Campus League sebagai wadah bagi mahasiswa yang ingin tetap berkembang melalui olahraga.
“Saya sangat senang sekali dengan diadakannya Campus League ini. Karena anak-anak yang lain di kampus mana pun, ternyata ada bakat-bakat di bidang olahraga, seperti ya badminton atau ada basket. Saya senang sekali kalau didukung seperti ini.”
Menurutnya, jalan seorang atlet tidak selalu harus berakhir di Pelatnas. Masih banyak kesempatan yang dapat menjadi pintu berikutnya.
“Sekarang walaupun tidak masuk ke Pelatnas, tapi ternyata ada jalan lain. Banyak jalan menuju Roma lah. Disediakan ada Campus League.”
Di Regional Bandung, perjalanan Prawesti bersama Universitas Padjadjaran (Unpad) juga menunjukkan hasil dari proses panjang tersebut. Turun di dua nomor kategori individual, yakni Tunggal Putri dan Ganda Campuran, Prawesti tampil sebagai seeding unggulan kedua di Tunggal Putri dan mampu melaju hingga partai final.
Bagi Prawes, mungkin kemenangan diraih dengan raket dan kerja keras di lapangan. Tetapi selama 13 tahun perjalanan, ada satu kekuatan lain yang terus berada di belakangnya: orang tua yang memilih untuk tetap hadir, memastikannya tidak berjalan sendirian.
“Didampingin orang tua ya pastinya lebih bikin jadi lebih semangat. Ditonton terus, ini sih kayak apa, doanya orang tua itu yang lumayan ngaruh dan ampuh juga,” tutup Prawes. (DT)

