Dua Pelatih, Satu Semangat Kepahlawanan di Lapangan
Pelatih Tidak Hanya Urus Taktik
Di panggung Campus League Futsal Regional Yogyakarta 2025, dua kisah datang dari dua kota berbeda, tapi berjumpa pada satu makna yang sama: pelatih bukan sekadar pengatur taktik, tetapi penjaga api semangat.
Dari Tim Putri Universitas Tidar Magelang dan Tim Putra Universitas Surabaya, hadir dua figur yang dipanggil dengan hormat: Coach Nanang Oktanto dan Coach Randy Achmad Zulkarnaen. Di hari-hari kompetisi yang penuh tekanan, keduanya menjadi gambaran nyata bagaimana kepahlawanan bisa hadir dalam bentuk paling sederhana: mendampingi, mengarahkan, dan merawat.
“Coach adalah sosok pahlawan karena dia menengahi masalah dan memimpin tim,” ujar Sahastian Ayu Kusumaningtyas, kapten Tim Futsal Putri Universitas Tidar.
Ia mengenang bagaimana Coach Nanang tidak hanya memikirkan strategi, tetapi juga menjaga hati para pemainnya tetap utuh. Ketika suasana memanas atau suara dalam tim mulai berbeda arah, pelatih mengajak bicara satu per satu, bukan untuk menggurui, melainkan untuk memahami. “Serahkan soal salah atau benar ke pelatih,” pesan Sahastian kepada juniornya.
Sahastian telah melalui banyak turnamen bersama timnya, meski gelar juara belum datang. Kompetisi futsal putri di Magelang minim, sehingga mereka kerap harus menempuh perjalanan jauh ke Yogyakarta untuk mendapatkan panggung.
Campus League ini menjadi momen terakhirnya sebelum ia lulus. Bukan trofi yang ia kejar, tetapi warisan nilai: tim yang solid lahir dari rasa saling menguatkan. Di sinilah tiga pilar Campus League terasa hidup: akademis yang harus dijaga, atletisme yang dibentuk lewat disiplin, dan empati yang merawat kebersamaan.
Di sisi lain lapangan, ada cerita dari seorang pencetak gol yang namanya mulai diperbincangkan: Hezkia Pardamean Purba, mahasiswa Akuntansi Universitas Surabaya. Ia mencatat 9 gol di fase grup, termasuk 8 gol dalam satu laga. Namun ketika ditanya tentang sumber kekuatannya, ia tidak menyebut statistik, tapi menyebut nama pelatihnya.
“Pelatih itu pahlawan buat kami. Dia ninggalin kerjaannya demi nemenin dan arahin tim,” kata Hezkia tentang Coach Randy Achmad Zulkarnaen.
Ia menjelaskan bagaimana Coach Randy menjadi penenang di ruang ganti, terutama saat tekanan tinggi menghampiri.
“Pelatih selalu bilang, main tanpa beban, tetap tenang, percaya diri, fokus,” lanjutnya. Kata-kata sederhana, tetapi cukup untuk menjaga kepala tetap dingin dan hati tetap tegak.
Perjalanan Hezkia bukanlah selalu di jalan lurus. Anak Kalimantan Timur ini mulai dari sepak bola kecil-kecilan, lalu menjadi kiper di berbagai turnamen nasional, sebelum akhirnya berpindah posisi atas saran orang tua. Di kampus, ia menyeimbangkan pelajaran akuntansi yang penuh hitungan dengan futsal yang penuh insting. Di situ, pilar akademis dan atletisme bertemu dalam satu ritme.
Namun sebagaimana Tim Untidar, Tim Ubaya pun merasakan pahitnya diremehkan. Ada kekalahan, ada keraguan, ada momen ingin menyerah. Tapi seperti kata Hezkia, “Yang penting saling support, kompak, semangat bareng, dan terima hasil apapun.” Mereka memilih berjalan bersama, tidak saling menyalahkan, dan tetap menaruh hormat kepada proses.
Pada akhirnya, hasil kompetisi tidak selalu sejalan dengan usaha. Tim Ubaya harus tersingkir dari penyisihan grup Campus League musim ini karena selisih gol. Sementara perjalanan Sahastian akan segera berakhir seiring masa studinya. Namun, makna Hari Pahlawan 10 November tidak pernah menuntut kemenangan final. Ia menuntut keberanian untuk tetap melangkah.
Dan dalam langkah itu, para pelatih hadir bukan untuk berdiri paling depan, tetapi untuk memastikan setiap pemain berani mengambil satu langkah lagi.