
Agil Firmansyah (kiri) bersama sang bapak, Muhammad Mansyur. (Gerry Putra/Campus League)
Dukungan penuh orang tua selalu mengiringi perjalanan Agil Firmansyah sebagai pebulutangkis terutama saat membela Universitas Terbuka Semarang di Badminton Regional Semarang.
Muhammad Mansyur selalu terlihat di pinggir lapangan saat sang anak, Agil, bertanding. Kehadirannya tak hanya sekadar menjadi pendamping, tetapi motivasi bagi sang anak.
Mansyur mengenalkan bulu tangkis kepada Agil sejak masih kecil. Saat itu, ia mencari olahraga yang dianggap aman untuk anaknya. Dari pilihan tersebut, Agil justru menemukan olahraga yang kemudian ditekuni hingga sekarang.
“Dulu dia mainnya futsal, tapi kita agak takut karena kalau futsal kan ada benturan, jadi takutnya dia kenapa-kenapa,” ujar Mansyur.
Mansyur kemudian mencari alternatif olahraga yang lebih aman. Bulu tangkis menjadi pilihan dan ternyata mendapat respons positif dari Agil.
“Saya tanya, olahraga itu yang aman apa? Ada badminton. Dikenalinlah dia badminton, tetap aja dia suka. Memang basic-nya dia, hobinya olahraga,” katanya.
Seiring Agil tumbuh dan semakin serius menekuni bulu tangkis, dukungan Mansyur pun ikut berkembang. Ia tidak membatasi pilihan anaknya, termasuk ketika Agil mulai mengejar karier sebagai atlet.
Bahkan, Mansyur menyebut dukungan yang diberikan bukan lagi sekadar penuh, tetapi seribu persen. Ia berusaha memastikan kebutuhan Agil sebagai atlet terpenuhi, termasuk mengikuti perkembangan olahraga dan teknologi dalam bulu tangkis.
“Kalau untuk men-support, saya sebagai orang tua bukan 100 persen lagi, 1000 persen. Kita menyiapkan kondisinya semuanya. Kita juga baca-baca mengenai perkembangan teknologi badminton, nanti kita sharing sama anak saya,” tutur Mansyur.

Agil Firmansyah saat bertanding di ajang Badminton Campus League Regional Semarang. (Foto: Jaya Pratama/Campus League)
Meski demikian, Mansyur tidak ingin mengambil alih keputusan Agil. Baginya, dukungan orang tua harus tetap memberi ruang bagi anak untuk menentukan jalan yang ingin ditempuh.
Hubungan keduanya juga tidak berhenti pada dukungan dari pinggir lapangan. Agil dan Mansyur terbiasa berbicara dan saling bertukar cerita. Topiknya tak melulu soal bulu tangkis. Bagi mereka, keterbukaan menjadi bagian penting untuk menjaga hubungan sebagai ayah dan anak.
Mansyur pun merasa lebih tenang ketika melihat Agil bertanding. Jika dulu masih sering merasa tegang, kini ia bisa menikmati pertandingan dengan lebih santai setelah melihat Agil semakin dewasa dan memiliki pengalaman bertanding, termasuk di luar negeri.
“Awalnya sih sama ya pada umumnya orang tua. Deg-degan atau apa. Tetapi dengan yang sekarang ini, dia sudah dewasa, sudah pernah ke luar negeri, saya enjoy,” katanya.
Hal yang paling membuat Mansyur lega bukan semata hasil pertandingan. Ia justru melihat Agil sudah menemukan jati dirinya dan mampu menentukan sikap di tengah lingkungan yang terus berkembang.
“Yang penting dia sudah menemukan jati dirinya. Dia enggak terpengaruh dengan lingkungan, enggak terpengaruh dengan pergaulan. Itu aja,” ujar Mansyur.
Bagi Agil, dukungan sang ayah juga terasa langsung ketika berada di lapangan. Mansyur menjadi sosok yang mampu membuatnya lebih tenang ketika tekanan pertandingan mulai muncul.
“Ya, jadi dia motivasi aja bagi saya. Bapak buat saya lebih fokus, lebih tenang. Di lapangan kadang-kadang kan saya masih ada tegang. Bapak bisa tenangin dan jadi lebih semangat,” kata Agil.
Bagi Mansyur dan Agil, hubungan orang tua dan anak bukan hanya soal dukungan langsung saat kompetisi, tetapi juga menjadi tempat berbagi cerita dan berdiskusi dalam setiap proses yang dijalani, terutama di Regional Semarang ini. (GAP)
Campus League 2026 merupakan platform kompetisi olahraga, akademik, dan pengembangan komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia. Kami menyelenggarakan turnamen antar-perguruan tinggi nasional untuk cabang olahraga futsal, bola basket, dan bulu tangkis (badminton), serta kompetisi seni kreatif (art competition). Melalui program pembinaan student-athlete, kami fokus menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan performa akademis di ruang kelas.
Setiap partisipan diwajibkan memenuhi kriteria indeks prestasi kumulatif (IPK) minimum dan menyelesaikan aksi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi bersama berbagai universitas terbaik di Indonesia dan didukung oleh sponsor terkemuka, kami berkomitmen melahirkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berintegritas tinggi, berjiwa sosial, dan siap bersaing di kancah profesional dunia kerja.