Ganda Campuran Unesa Bicara Sistem 15 Poin
Lebih Cepat dan Memacu Adrenalin

Ganda Campuran Unesa, Kharisna/Valencia, saat berhadapan dengan pasangan Ubaya Justin/Xena. (Foto: Jaya Pratama/Campus League)
Pasangan ganda campuran Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Muhammad Kharisna/Valencia Shafa Khalifa Winarko, langsung meraih kemenangan saat pertama kali tampil dengan sistem 15 poin di Badminton Campus League Season 1 Regional Semarang.
Kharisna/Valencia mengalahkan pasangan Universitas Surabaya (Ubaya), Justin Hadinata Sutrisno/Xena Jon, dengan skor 15-9, 15-9 di Polytron Stadium Universitas Diponegoro (Undip), Rabu (26/8).
Meski menang dua gim langsung, Kharisna/Valencia tak ingin cepat puas. Hasil pertandingan tersebut justru menjadi bahan evaluasi untuk menghadapi laga berikutnya.
"Tadi kita berhasil menang langsung straight game, ini jadi acuan dan evaluasi kita di pertandingan berikutnya," kata Kharisna.
Pertandingan tersebut juga menjadi pengalaman pertama bagi keduanya menggunakan sistem 15 poin yang rencananya mulai diterapkan BWF pada tahun depan.
Kharisna mengaku perubahan sistem membuat tekanan dalam pertandingan terasa berbeda. Dengan jumlah poin yang lebih pendek, setiap kesalahan bisa berdampak besar terhadap hasil pertandingan.
"Kita baru pertama kali, tentu adrenalinnya lebih kerasa, poinnya pendek. Poinnya pendek jadi lebih hati-hati lagi, biar gak mati, karena kehilangan satu poin itu berarti banget jadinya," ujar Kharisna.
Valencia merasakan hal serupa. Menurutnya, pertandingan dengan sistem 15 poin berlangsung lebih cepat dibandingkan format 21 poin yang selama ini digunakan.
"Mungkin lebih cepat aja sih, biasanya sampai 21, nah ini 15 langsung selesai," ujarnya sembari tertawa.
Di luar lapangan, Kharisna dan Valencia juga harus membagi waktu antara latihan, pertandingan, dan kewajiban sebagai mahasiswa. Keduanya tetap berusaha menjaga agar aktivitas olahraga tidak mengganggu perkuliahan.
Kharisna yang merupakan mahasiswa FIKK jurusan Kepelatihan Olahraga mengatakan tugas kuliah biasanya dikerjakan pada waktu kosong di luar jadwal latihan.
"Kita gak latihan setiap hari, di hari-hari yang kosong kita selesaikan tugas dari matkul-matkul kita, jadi tidak terganggu," kata Kharisna.
Sementara Valencia yang merupakan mahasiswi jurusan Psikologi, memanfaatkan waktu selesai perkuliahan untuk berlatih bersama tim kampus.
“Kalau kampus kan aktivitasnya pagi dan latihan itu malam antara jam enam ke atas, jadi masih bisa menyesuaikan,” tutur mahasiswi asal Sidoarjo, Jawa Timur itu.
Kemenangan di laga perdana menjadi modal bagi Kharisna/Valencia untuk melanjutkan perjalanan mereka di Badminton Campus League Season 1. Selain mengejar hasil terbaik, keduanya juga mendapat pengalaman baru dengan sistem pertandingan yang lebih singkat. (GAP)

