Gloria Membawa Mimpi Besar dari President University
Dua Nomor Jadi Pengalaman Berharga di Campus League

Turun di dua nomor, Gloria Renanda Salpinus harus menghadapi dua lawan tangguh. Namun, dari kekalahan di nomor kategori individu Badminton Campus League Season 1, ia menemukan pengalaman yang membuat langkahnya sebagai student-athlete President University (Pres-Univ) semakin berarti.
Di balik hasil pertandingan, Gloria justru menemukan pengalaman berharga tentang keberanian menghadapi tekanan, membaca permainan lawan, dan terus berkembang sebagai student-athlete.
Mahasiswi Fakultas Hukum ini menjadi satu-satunya pemain Pres-Univ yang tampil di dua nomor individual pada Badminton Campus League Regional Bandung. Ia turun di Tunggal Putri sekaligus Ganda Putri bersama Sheila Andara Kresna.
Langkah pertamanya datang di Tunggal Putri. Gloria harus berhadapan dengan pemain unggulan Universitas Bina Nusantara, Aura Ihza Aulia. Pertandingan berakhir dengan kemenangan Aura 15-4, 15-9.
Bukan lawan sembarangan yang dihadapi Gloria. Ia mengaku sudah mengetahui kualitas sang lawan bahkan sebelum pertandingan dimulai. “Di awal aku sempat nervous. Karena aku ngelihat lawan aku juga kan dia salahsatu juara Pra PON. Dia juga mantan atlet Djarum,” ujar Gloria.
Tekanan sempat terasa ketika pertandingan berjalan. Gloria bahkan mengaku sedikit kehilangan kepercayaan diri setelah tertinggal. Namun, ia mencoba mengubah cara pandangnya terhadap pertandingan. “Saat tertinggal point cukup jauh, sempat agak sedikit down lah. Nah tapi pas aku amatin cara mainnya dari set pertama, aku yakin sebenarnya bisa (untuk memenangkan set).”
Ia memang belum mampu membalikkan keadaan. Menurut Gloria, salah satu persoalannya adalah kontrol bola yang belum maksimal. Tetapi ia tetap menemukan momen ketika mampu memberikan perlawanan. “Cuma ya emang karena aku di set kedua tuh kurang ngontrol bola aja. Walau sempat ngejar poin juga.”
Perjalanan Gloria kemudian berlanjut di Ganda Putri. Bersama Sheila Andara Kresna, mereka kembali menghadapi pasangan yang tidak mudah. Kali ini, pasangan Universitas Gunadarma Depok, Aura Zalfa Syafiya/Shafa Alya, menjadi lawan yang harus mereka hadapi.

Gloria dan Sheila kembali harus mengakui keunggulan lawan. Dua pertandingan, dua kekalahan. Tetapi bagi Gloria, pengalaman di Campus League tidak berhenti pada hasil di papan skor. Ada cerita yang lebih besar di balik keikutsertaannya.
Pres-Univ datang ke Campus League dengan tujuh pemain: Adya Nasuarama, Bagas Maulana Setinto, Dimas Rizky Adhana, Fuad Ghani Widyatma, Gloria Renanda Salpinus, Muhammad Agung Fajrizqo, dan Sheila Andara Kresna.
Di nomor individual, Dimas Rizky Adhana/Adya Nasuarama berhasil membawa President University lolos ke babak perempatfinal di kategori Ganda Campuran. Sementara Gloria menjadi pemain yang mendapat tantangan berbeda karena tampil di dua nomor.
Di luar pertandingan, Gloria dan rekan-rekannya juga sedang berusaha menghidupkan kembali President University Badminton Club (PUBC). UKM Badminton tersebut sebenarnya telah ada sejak sekitar 2003. Namun, aktivitasnya sempat meredup karena pengurus sebelumnya mulai memasuki masa magang dan disibukkan kegiatan lainnya.
Kini, generasi Gloria mencoba mengambil peran. “Karena kemarin sempat redup (Kepengurusan). Karena yang pegang kan kating (kakak tingkat). Dan mereka udah pada magang kan. Jadi agak sibuk, agak gak ada yang ngurus dan sekarang ada angkatanku yang bakalan ngurus PUBC,” katanya.
Satu kebutuhan yang masih mereka rasakan adalah kehadiran pelatih. Untuk sementara, para pemain saling membantu dalam latihan. “Dari kita-kita aja yang ngelatihan, maksudnya kita yang saling ngelatih gitu-gitu.”
Meski begitu, dukungan Pres-Univ membuat para atlet tetap bisa fokus bertanding. Melalui Student Affairs, kampus memberikan dukungan transportasi, akomodasi, makanan hingga uang saku selama mengikuti kompetisi. Dukungan juga diberikan di sisi akademik. Para atlet mendapatkan dispensasi ketika harus meninggalkan perkuliahan dan memperoleh tugas pengganti dari dosen.
Bagi Gloria, dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang student-athlete. Sebagai mahasiswa hukum, ia harus membagi waktu antara tuntutan akademik dan latihan. “Kalau untuk aku sendiri aku tuh pengen akademik aku tuh jalan dan maksudnya bisa nyeimbangin antara atlet sama akademik,” ujarnya.
Ia sadar keduanya tidak bisa berjalan dengan setengah hati. “Intinya aku pengennya aku kedepannya bisa berprestasi di akademik bisa juga berprestasi di non-akademik kayak pertandingan-pertandingan seperti Campus League, nasional-nasional kayak gitu.”
Campus League juga memberinya pengalaman baru dalam menghadapi format pertandingan 15 poin. Menurut Gloria, sistem tersebut terasa lebih cepat dibandingkan format 21 poin yang selama ini lebih familiar baginya.
Perjalanan belum selesai bagi universitas berjuluk "kampus seribu event" ini. Kekalahan di nomor individual justru mereka jadikan sumbu penyemangat untuk menghadapi tantangan berikutnya, yaitu kategori Beregu yang akan mulai digelar pada Kamis (17/9). (DT)

