Ini Sistem Penentuan Peringkat di Klasemen Beregu The Nationals
Sempat Ada Perbedaan antara Semarang dan Bandung

Campus League Badminton Season 1 menjadi salah satu kompetisi pertama di Indonesia yang menggunakan sistem skor baru dari BWF untuk kategori beregu campuran. Sistem skor itu adalah format relay 3x55 poin.
Namun, penentuan peringkat di klasemen dengan sistem relay 3x55 poin itu menemui perbedaan antara Badminton Regional Semarang dan Bandung. Perbedaan itu boleh jadi tidak terasa oleh para peserta, tapi bagi media akan membingungkan.
Dalam technical meeting The Nationals di GOR Bandung, Jawa Barat, Sabtu (19/9), PBSI Pengda Jawa Barat menjelaskan soal penentuan peringkat dalam sistem setengah kompetisi di kategori beregu campuran The Nationals dengan dua grup yang masing-masing berisi empat tim.
Tim yang mendapat kemenangan pertandingan (tie) terbanyak akan menempati peringkat pertama grup dan seterusnya. Apabila ada dua tim yang sama-sama memiliki jumlah kemenangan tie, peringkat akan ditentukan berdasarkan head to head antarmereka.
Apabila ada tiga tim yang memiliki kemenangan tie sama dalam satu grup, maka peringkat akan ditentukan oleh kemenangan match dalam set-nya. Untuk diketahui bahwa dalam sistem skor 3x55 poin menggunakan istilah pertandingan (tie), lalu set, dan di dalam set ada match.
"Ini memang baru, jadi wajar jika ada yang ketuker sebut. Tapi jelas, sekarang istilahnya adalah tie, set, dan match. Tie itu pertandingan kampus A vs kampus B, set adalah 55 poin, dan match adalah nomor pertandingan di dalam set," ujar Latif Jaohari, Referee PBSI yang bertanggung jawab dalam pertandingan di Campus League Badminton Regional Bandung dan The Nationals.
Jika dua tim dalam satu grup punya jumlah kemenangan dengan jumlah match yang sama, misalnya sama-sama 3-2 di 2 set, maka akan ditentukan oleh head to head.
Namun ada perbedaan soal pencatatan skor menang dan kalah. Di Regional Semarang, pencatatan adalah menjumlah skor kumulatif di tiap match dalam satu set. Contohnya 11 ditambah 22, ditambah 33, dan seterusnya hingga 55. Sementara di Bandung hanya menjumlahkan 55 pada set 1 dan 55 pada set 2.

Referee Campus League Badminton, Latif Jaohari, yang juga referee PBSI Pemprov Jabar, di GOR KONI Bandung, Jumat (18/9). (Foto: Fahmi Abdushshofi/Campus League)
Dalam nomor beregu, satu set terdiri dari lima match, yakni tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran. Setiap match menyumbang 11 poin hingga salah satu tim yang lebih dahulu mencapai angka 55 akan menang.
“Hanya 11 poin setiap match. 55 dibagi 5, jadinya 11, 11, 11, 11, 11 gitu kan. Yang dihitung terakhir, bukan jumlah akumulasi keseluruhan ya. Namanya juga tim relay 55, artinya si pemenang set itu harus mencapai 55 duluan,” jelasnya.
Konsep tersebut juga memengaruhi pencatatan skor ketika pertandingan berlangsung dua atau tiga set. Jika sebuah tim menang straight set 2-0, total poinnya menjadi 110, karena memperoleh 55 poin pada set pertama dan 55 poin pada set kedua. “Kalau dia menangnya 2 set langsung, maka 55 ditambah 55, jadi 110. Seperti itu,” ujar Latif.
Sementara jika pertandingan harus berlangsung hingga rubber set, dua set kemenangan tetap bernilai 110 poin. Setelah itu, ditambahkan poin yang diperoleh tim pada satu set ketika mereka mengalami kekalahan. “Kalau dia rubber set berarti 2 set kemenangan ditambah 1 set kekalahan. Jadi nanti jumlahnya bisa 110 ditambah 30, tambah 45, tambah berapa gitu,” katanya.
Sistem tersebut berbeda dengan yang digunakan pada Regional Semarang. Di sana, poin yang dicatat merupakan akumulasi skor dari lima partai pertandingan dalam satu set.
“Kalau di Semarang itu akumulasi jumlah poin dari setiap partai di satu set tersebut. Karena satu set itu terdiri dari lima pertandingan tunggal putra, putri, ganda putra, putri, dan ganda campuran. Tidak ada yang salah, PBSI hanya sedang mencari yang paling baik. Tapi yang jelas di The Nationals akan dipakai poin maksimal 55 yang dicatat," Latif menegaskan.
Latif menambahkan, perbedaan cara menghitung tersebut tidak mengubah esensi dalam menentukan tim yang menjadi pemenang. Penentuan peringkat tetap dilakukan berdasarkan hierarki hasil pertandingan, mulai dari jumlah kemenangan tie, kemenangan match, kemenangan set, hingga game dan skor apabila masih diperlukan.
“Ujungnya kalau untuk menentukan siapa peringkat satu itu tetap dihitung dia menang berapa kali. Kemudian kalau jumlah kemenangan tie sama, balik lagi lihat match-nya. Berarti antarpartainya itu bisa menang 2-0 atau menang 2-1,” kata Latif.
Latif mengatakan, pemilihan sistem dalam sebuah kompetisi adalah kewenangan referee dengan mengacu pada regulasi Campus League dan ketentuan PBSI. Menurut dia, sistem akumulasi yang digunakan di Semarang kemungkinan berkaitan dengan mekanisme Tournament Planner.
“Yang menentukan itu setiap kejuaraan adalah referee, tentunya berdasarkan dari pemahaman regulasi yang dikeluarkan Campus League, ditambah dengan regulasi di PBSI. Kalau kenapa di Semarang dijumlahkan, mungkin itu mengikuti sistem di TP (Tournament Planner),” ungkapnya. (DT)

