Jadi Tuan Rumah, ITS Siap Bikin Lawan Tertekan
Belajar dari Musim Lalu, ITS Tak Ingin Ulangi Kesalahan

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tak sekadar bersiap menjadi tuan rumah Campus League Futsal Season 1 Regional Surabaya. Bermain di kandang sendiri, ITS membawa ambisi besar untuk merebut tiket The Nationals, dengan mengandalkan regenerasi pemain dan dukungan penuh suporter kampus.
GOR Pertamina ITS Surabaya akan menjadi arena persaingan 14 tim pada 13–20 Oktober 2026. Bagi ITS, kesempatan tampil di hadapan pendukung sendiri menjadi modal tambahan untuk menghadapi persaingan, sekaligus membuktikan kekuatan skuad baru setelah sejumlah pemain musim lalu menyelesaikan masa studinya.
Pelatih ITS Surabaya, Muhammad Syamsul Arifin, mengatakan persiapan tim mulai difokuskan pada September 2026. Sejauh ini, persiapan berjalan lancar dengan perhatian utama pada sejumlah aspek penting untuk menghadapi kompetisi.
“Persiapan baru di mulai difokuskan pada bulan september ini, alhamdulillah untuk persiapan segala aspek penting berjalan lancar,” ujar Syamsul.
Menghadapi musim ini, ITS juga membuka kesempatan lebih besar bagi para mahasiswa baru untuk masuk ke dalam skuad. Langkah tersebut menjadi bagian dari regenerasi tim setelah beberapa pemain yang memperkuat ITS pada musim sebelumnya telah lulus.
“Materi pemain yang ada akan banyak mahasiswa baru yang kemungkinan akan mendapatkan kesempatan, mengingat beberapa pemain kita pada tahun lalu sudah lulus dan kami ingin fokus memunculkan regenerasi baru,” katanya.
Perubahan komposisi pemain membuat persiapan tim tidak hanya berorientasi pada pembentukan kekuatan di lapangan, tetapi juga memastikan para pemain baru mampu beradaptasi dengan kebutuhan permainan. Karena itu, aspek teknik, taktik, dan kondisi fisik menjadi fokus utama dalam latihan.
Grup A Jadi Ujian Awal ITS
Tantangan ITS akan langsung dimulai pada fase grup. Di kategori putra, 10 tim dibagi ke dalam dua grup yang masing-masing berisi lima tim. ITS tergabung di Grup A bersama Universitas Surabaya (Ubaya), Universitas Ciputra Surabaya, Universitas Negeri Malang, dan Universitas Brawijaya.
Komposisi tersebut menghadirkan persaingan yang perlu diantisipasi tuan rumah sejak pertandingan pertama. Kehadiran ITS dan Ubaya juga menarik perhatian karena keduanya telah merasakan ketatnya persaingan Campus League pada Season 0.
Pengalaman musim sebelumnya menjadi bekal bagi kedua tim untuk menghadapi tantangan kali ini. Namun, persaingan di lapangan tetap akan menjadi penentu perjalanan mereka untuk melangkah lebih jauh.
Bagi ITS, target yang dibawa ke Regional Surabaya tidak sekadar tampil kompetitif di kandang sendiri. Syamsul menegaskan, tiket menuju babak nasional menjadi sasaran utama timnya musim ini.
“Untuk target tahun ini, kita ingin lolos ke babak nasional itu adalah target utama kami,” tegasnya.
Syamsul juga menyebut Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sebagai salah satu tim yang patut diwaspadai. Meski demikian, ITS harus mempersiapkan diri menghadapi seluruh lawan, termasuk para pesaing di Grup A, agar peluang melaju ke babak berikutnya tetap terbuka.
Belajar dari Musim Lalu, ITS Tak Ingin Mengulang Kesalahan
Selain mematangkan permainan, ITS membawa evaluasi penting dari keikutsertaan pada Campus League musim sebelumnya. Salah satu pelajaran terbesar yang didapat bukan semata-mata soal permainan, melainkan pentingnya memahami dan menaati regulasi kompetisi.
Syamsul mengungkapkan, pada musim lalu sejumlah pemain ITS tidak dapat tampil akibat persoalan regulasi. Pengalaman tersebut menjadi evaluasi bagi manajemen tim agar persoalan administratif tidak kembali menghambat perjuangan mereka di lapangan.
“Pelajaran yang di dapat pada musim lalu yaitu tentang pemahaman manajemen tim & regulasi pertandingan, banyak pemain pada tahun lalu tidak dapat bermain karena regulasi yang ada dan merugikan tim, sebuah pelajaran bagi manajemen tim kita untuk mematuhi regulasi dan menaatinya,” jelasnya.
Kini, dengan status tuan rumah, ITS berharap dapat memaksimalkan atmosfer pertandingan di GOR Pertamina untuk menambah motivasi para pemain. Dukungan mahasiswa dan seluruh civitas akademika menjadi salah satu hal yang diharapkan mampu menghadirkan keuntungan tersendiri.
Menariknya, Syamsul justru tidak menganggap status tuan rumah sebagai sumber tekanan bagi anak asuhnya. Sebaliknya, ia melihat atmosfer kandang ITS berpotensi menjadi tantangan bagi tim-tim lawan yang harus bermain di hadapan pendukung tuan rumah.
“Untuk pressure tidak ada, malah sebaliknya ini pressure bagi tim lain yang akan bermain di ITS mengingat kita juga memiliki banyak penonton dan saya harap itu akan terjadi ketika ITS bermain, dengan itu kita meminta dukungan penuh bagi semua civitas yang ada untuk mendukung kita di kandang kita sendiri,” pungkasnya.
Persaingan Grup A akan menjadi ujian pertama sebelum ITS mengejar target lolos ke babak nasional. Bagi Syamsul, dukungan publik sendiri diharapkan menjadi energi tambahan sekaligus menghadirkan tekanan bagi para pesaing yang datang ke markas ITS. (DT)

