
Rafli Kurnia dan Nadhifa Kamelia berpose selepas pertandingan perempat final ganda campuran. (Foto: Jaya Pratama/Campus League)
Komunikasi menjadi kunci pasangan ganda campuran Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), Rafli Kurnia dan Nadhifa Kamalia, untuk menjaga permainan tetap harmonis di lapangan. Keduanya memilih saling percaya dan memberi semangat daripada saling menyalahkan saat menghadapi tekanan pertandingan.
Bagi Rafli dan Nadhifa, menjaga kekompakan bukan sekadar soal pembagian tugas di lapangan. Komunikasi selama pertandingan menjadi bagian penting untuk menjaga fokus sekaligus memastikan permainan tetap berjalan sesuai rencana.
Nadhifa menyebut, salah satu hal yang selalu mereka jaga adalah tidak saling menyalahkan ketika pasangan melakukan kesalahan. Menurutnya, menyudutkan partner justru bisa merusak permainan dan menghilangkan kepercayaan yang sudah dibangun
“Berusaha tidak saling menyalahkan partner. Kalau saling menyalahkan, permainan malah bisa rusak. Jadi, saling percaya dan saling kasih semangat saja,” kata Nadhifa.
Sikap tersebut membuat keduanya berusaha tetap tenang ketika menghadapi situasi sulit. Kesalahan dalam pertandingan dianggap sebagai bagian dari permainan yang harus segera dilupakan agar fokus bisa kembali ke poin berikutnya.
Harmonisasi itu juga mereka bangun melalui latihan bersama. Rafli dan Nadhifa tidak hanya berlatih secara individu, tetapi memperbanyak sesi latihan sebagai pasangan ganda campuran.
Hasilnya, komunikasi dan kepercayaan yang mereka bangun akhirnya berbuah hasil. Rafli dan Nadhifa berhasil mengamankan tiket ke The Nationals dan kini melangkah ke semifinal Badminton Campus League Regional Semarang.
Langkah tersebut mereka pastikan setelah mengalahkan pasangan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Muhammad Kharisna/Valencia Shafa, melalui pertandingan tiga gim dengan skor 16-18, 15-10, 15-6.
Mereka pun mulai mempersiapkan untuk The Nationals, meski saat ini mereka masih harus bertanding di empat besar Regional Semarang.
“Lebih banyak latihan berpasangan sebagai pemain mix, sekaligus mematangkan pukulan dan pola permainan kami. Dari situ, komunikasi di lapangan juga semakin terbentuk,” ujar Rafli.
Selain komunikasi dan harmonisasi, kondisi fisik juga menjadi perhatian. Padatnya pertandingan di Regional Semarang membuat Rafli dan Nadhifa menyadari pentingnya menjaga stamina agar tetap mampu tampil maksimal hingga pertandingan berakhir.
Keduanya berusaha mengatur pola istirahat dan menjaga kondisi tubuh di sela-sela pertandingan. Bagi mereka, stamina tidak hanya dibangun melalui latihan, tetapi juga dengan menjaga kesehatan di luar lapangan.
“Kita juga harus pintar-pintar menjaga kesehatan. Pola istirahat harus diatur, dan jangan lupa menjaga kondisi tubuh dengan suplemen kesehatan,” kata Rafli. (GAP)
Campus League 2026 merupakan platform kompetisi olahraga, akademik, dan pengembangan komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia. Kami menyelenggarakan turnamen antar-perguruan tinggi nasional untuk cabang olahraga futsal, bola basket, dan bulu tangkis (badminton), serta kompetisi seni kreatif (art competition). Melalui program pembinaan student-athlete, kami fokus menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan performa akademis di ruang kelas.
Setiap partisipan diwajibkan memenuhi kriteria indeks prestasi kumulatif (IPK) minimum dan menyelesaikan aksi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi bersama berbagai universitas terbaik di Indonesia dan didukung oleh sponsor terkemuka, kami berkomitmen melahirkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berintegritas tinggi, berjiwa sosial, dan siap bersaing di kancah profesional dunia kerja.