Menjadi student-athlete bukan hal mudah. Jadwal kuliah yang padat harus berjalan beriringan dengan latihan dan pertandingan. Namun tantangan itu berhasil dijawab Macxquel Rehan Thiemailattu.
Pemain Universitas Surabaya (Ubaya) tersebut dinobatkan sebagai All Academic Player Basketball Campus League Season 1 setelah memiliki IPK sempurna 4,0. Penghargaan itu menjadi pelengkap perjalanan manisnya bersama Ubaya Putra yang sukses menutup musim dengan finis di peringkat ketiga Season 1.
Menariknya, pencapaian akademik tersebut datang di luar ekspektasinya. Macxquel mengaku bukan sosok yang sejak sekolah dikenal sangat menonjol di bidang akademik. Karena itu, saat mengetahui IPK-nya menyentuh angka sempurna, ia justru menjadi orang yang paling terkejut.
"Sebenernya kaget juga pas tau IPK 4 itu. Soalnya aku dari SMA emang anaknya nggak terlalu yang akademik banget. Terus pas kuliah ini sebenernya kedorong rasa takut sih. Takut nggak lulus, takut lulusnya lama. Makanya pas semester 1 nge-push banget," ujarnya.
Bahkan ketika mendapat telepon dari sang ayah, Macxquel masih sulit mempercayai pencapaian tersebut.
"Aku ditelepon papa saja, aku ngomong 'kaget banget aku IPK 4 tiba-tiba'. Seperti gak mungkin gitu aku IPK 4," katanya sambil tertawa.
Di balik nilai sempurna itu, ada rutinitas yang harus dijalani dengan disiplin. Sebagai pemain basket kampus, waktunya banyak tersita untuk latihan dan pertandingan. Namun menurut Macxquel, akademik dan basket merupakan dua tanggung jawab yang tidak bisa dipilih salah satu.
Karena itu, ia berusaha memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Setelah menjalani kuliah dan latihan sepanjang hari, malam menjadi waktu yang ia gunakan untuk mengejar materi perkuliahan dan mempelajari kembali catatan yang diberikan dosen.
"Jujur aja susah kalau bagi waktu. Cuman ya itu kan tanggung jawab kami. Mau akademik, mau basket, dua-duanya harus jalan. Jadi malam biasanya aku ngejar materi yang belum sempat dipelajari," ungkapnya.
Memilih Studi Psikologi
Prestasi akademik Macxquel juga semakin menarik karena pilihan jurusannya. Di tengah banyaknya atlet kampus yang memilih bidang ekonomi atau komunikasi, ia justru mengambil Fakultas Psikologi.
Awalnya hukum sempat menjadi pilihan. Namun setelah mempertimbangkan minat dan passion yang dimiliki, Macxquel merasa psikologi lebih sesuai dengan dirinya. Keinginannya untuk memahami cara berpikir dan perilaku manusia menjadi alasan utama memilih jalur tersebut.
"Sebenernya awalnya aku mau hukum. Tapi aku merasa kurang passion di situ. Akhirnya milih psikologi karena lebih pengen tahu tentang manusia itu kayak gimana," tuturnya.
Saat ini ia mengaku tertarik mendalami Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), bidang yang memiliki cakupan karier cukup luas setelah lulus nanti.
Meski demikian, basket tetap menjadi bagian penting dalam rencana masa depannya. Pemain yang juga membela BBM CLS Surabaya itu tidak menutup kemungkinan untuk mencoba menembus level yang lebih tinggi apabila kesempatan datang.
"Kalau dikasih kesempatan buat ke level yang lebih tinggi kayak IBL, aku mau coba. Cuman kalau memang gak ada, ya fokus kerja. Basket tetap jalan buat olahraga dan tetap jadi bagian hidup," katanya.
Di luar penghargaan individu yang diraih, Basketball Campus League Season 1 juga memberikan pengalaman berharga bagi Macxquel. Kompetisi tersebut menjadi pengalaman pertamanya tampil di ajang basket kampus berskala nasional.
Latar belakangnya yang berasal dari sekolah kecil membuat dirinya sempat terkejut ketika harus bersaing dengan pemain-pemain dari kampus besar di Indonesia.
"Jujur aku pertama kali ikut kompetisi kampus sebesar ini. Dari dulu nggak pernah masuk sekolah besar juga. Jadi pas sampai nasional, kaget sih," ujarnya.
Rasa terkejut itu langsung muncul sejak pertandingan pertama. Atmosfer pertandingan, tekanan kompetisi, hingga kualitas lawan memberikan pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.
Meski demikian, pengalaman tersebut justru menjadi salah satu hal yang paling ia nikmati sepanjang musim. Menurutnya, Basketball Campus League menghadirkan kompetisi yang profesional dan memberikan kenyamanan bagi para pemain untuk fokus bertanding.
"Keren sih Campus League. Proper banget semuanya. Pemain juga nggak dikasih kesusahan, dibantu semuanya. Mantap lah," ucapnya.
Dari sekian banyak pertandingan yang dijalani, laga melawan tuan rumah UPH pada fase grup menjadi momen yang paling membekas baginya. Bermain di hadapan dukungan suporter tuan rumah memberikan sensasi tersendiri yang sulit dilupakan.
"Pas lawan UPH di grup sih. Lagi enjoy banget mainnya waktu itu. Dengerin crowd-nya juga jadi makin menantang," katanya.
Perjalanan Macxquel di Basketball Campus League Season 1 pun terasa lengkap. Ubaya pulang dengan status peringkat ketiga nasional, sementara dirinya membawa penghargaan All Academic Player. Benar-benar musim yang akan sulit dilupakan oleh Macxquel. (GAP)
Campus League 2026 merupakan platform kompetisi olahraga, akademik, dan pengembangan komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia. Kami menyelenggarakan turnamen antar-perguruan tinggi nasional untuk cabang olahraga futsal, bola basket, dan bulu tangkis (badminton), serta kompetisi seni kreatif (art competition). Melalui program pembinaan student-athlete, kami fokus menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan performa akademis di ruang kelas.
Setiap partisipan diwajibkan memenuhi kriteria indeks prestasi kumulatif (IPK) minimum dan menyelesaikan aksi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi bersama berbagai universitas terbaik di Indonesia dan didukung oleh sponsor terkemuka, kami berkomitmen melahirkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berintegritas tinggi, berjiwa sosial, dan siap bersaing di kancah profesional dunia kerja.