Nopriansyah, Kuda Hitam yang Tumbangkan Tiga Unggulan
Persembahkan Emas untuk UBHARA

Nama Nopriansyah Adi Gunawan mungkin bukan yang pertama muncul ketika daftar kandidat juara tunggal putra Badminton Campus League Regional Bandung Season 1 dibicarakan. Namun, ketika persaingan berakhir, justru student-athlete Universitas Bhayangkara Bekasi (Ubhara) itu yang berdiri paling tinggi di podium.
Nopriansyah datang sebagai kuda hitam dan pulang sebagai juara. Dua pemain unggulan berhasil disingkirkannya sebelum ia memastikan gelar lewat kemenangan atas salah satu unggulan lainnya, M. Bagus Suyarto dari Universitas Budi Luhur (UBL) di partai final, dua gim langsung 15-12, 16-14.
Kejutan tersebut tidak lahir secara kebetulan. Kecepatan, ketangkasan, smash keras, serta ketenangan ketika memasuki poin-poin penting menjadi senjata Nopriansyah sepanjang kompetisi.

Alih-alih memaksakan permainan, ia memilih tampil lebih rapi dan menunggu kesempatan untuk menghukum kesalahan lawan.
“Saya mainnya lebih rapi aja dari mereka karena saya jarang buat kesalahan sendiri. Jangan nyari celah dari mereka. Ketika mereka gak siap, ya saya balik serang ke mereka,” ujar Nopriansyah di GOR KONI Bandung, Rabu (16/9).
Menghadapi para unggulan juga bukan pengalaman baru baginya. Ia mengaku beberapa kali bertemu pemain-pemain tersebut dalam kompetisi di Jakarta. Pengalaman itu membantunya lebih percaya diri ketika kembali berhadapan di panggung Campus League.
“Saya sering ketemu sama mereka juga di kompetisi lain sebelum ini. Di Jakarta itu sering ketemu,” katanya.
Perjalanan Nopriansyah menekuni badminton bermula dari keluarga. Ia awalnya mengikuti sang kakak yang lebih dulu bermain. Dari sekadar ikut mencoba, ia merasa menemukan kecocokan hingga akhirnya memutuskan serius berlatih dan bergabung dengan klub.
“Pas saya nyoba-nyobain main, saya ngerasa saya cocok dengan badminton. Akhirnya saya ikut club dan akhirnya saya serius ikutin sampai sekarang dan latihan terus sampai sekarang,” tuturnya.
Keseriusan itu pula yang membawanya memilih Pendidikan Kepelatihan Olahraga di UBHARA. Baginya, kuliah dan bulu tangkis berjalan beriringan dengan cita-cita untuk suatu hari menembus level profesional.
Di kampus, Nopriansyah juga aktif dalam UKM bulu tangkis. Pesertanya cukup banyak, meski tidak semuanya memiliki kemampuan untuk berkompetisi di level tinggi. “Yang ikut UKM badminton itu banyak. Cuma yang bakat ya emang sedikit,” ujarnya.
Sebagai student-athlete, dukungan kampus menjadi bagian penting. Ubhara memberikan dispensasi ketika mahasiswa harus bertanding dengan tetap melalui surat resmi.
“Ada dari kampus dikasih dispensasi khusus. Jadi kalau kita pertandingan, kalau ada surat dispensasinya dari Bhayangkara sendiri kasih dispensasi. Kita gak masuk, tapi absennya tetap dihadirin,” jelasnya.

Di tengah pertandingan ketat, peran pelatih juga menjadi pegangan. Ketika tertinggal, Nopriansyah berusaha mengendalikan emosi dan kembali fokus.
“Saya kadang minta istirahat sebentar ke wasit. Jika wasit gak ngasih, ya saya nenangin diri sendiri. Pelatih-pelatih di belakang juga ngingetin saya, suruh tenang, suruh jaga poin, fokus lagi,” katanya.
Menurut Nopriansyah, arahan tersebut membantunya membaca permainan lawan sekaligus menemukan celah yang bisa dimanfaatkan.
Kini, setelah menaklukkan tiga unggulan dan merebut gelar Regional Bandung, Nopriansyah bersiap menghadapi tantangan berikutnya di tingkat nasional.
Format 15 poin membuatnya harus menjaga fokus sejak awal. “Kalau game 15 kita tuh gak bisa kendor sedikit. Kalau kendor sedikit pasti kan musuh nyerang kita duluan. Jadi ya jaga poin dari awal, gak boleh hilang fokus dari awal,” ujarnya.
Gelar juara ini menambah koleksi kemenangan Nopriansyah. Namun, ia belum ingin berhenti. “Pastinya pengen terus push lagi, pengen juara satu lagi dan lagi.”