Pelatih Unesa Putri: Pemain adalah Seniman di Lapangan
Tekankan proses, adaptasi, dan keberanian untuk kemampuan terbaik

Pelatih Tim Futsal Putri Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Rizky M Sidik saat mendampingi anak asuhnya di lanjutan Grup C Putri Campus League Futsal Season 1 Regional Surabaya di GOR Pertamina ITS, Rabu (14/10).
Kepercayaan kepada pemain menjadi pegangan pelatih Tim Futsal Putri Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Rizky M Sidik, dalam mengarungi Campus League Futsal Regional Surabaya.
Baginya, pemain bukan sekadar menjalankan strategi dari pinggir lapangan, melainkan seniman yang memiliki kemampuan untuk menentukan jalannya pertandingan.
“Saya selalu menekankan kepada anak-anak bagaimana mereka menampilkan yang terbaik di lapangan pada saat mereka diberikan kesempatan. Yang bermain di lapangan itu mereka, ayo tunjukkan kemampuan terbaikmu. Karena mereka senimannya di lapangan, bukan saya lagi,” ujar Rizky.
Pendekatan tersebut mengiringi langkah Unesa yang mengawali kompetisi dengan hasil impresif. Mereka mencatatkan kemenangan 16-1 atas tuan rumah Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di GOR Pertamina ITS, Selasa (13/10). Hasil itu menjadi rekor kemenangan terbesar dalam sejarah Campus League Futsal sejauh ini.
Namun, bagi Rizky, kemenangan telak tersebut bukan alasan untuk terpaku pada pencapaian skor. Ia lebih menaruh perhatian pada bagaimana para pemain memaksimalkan kesempatan bermain, beradaptasi dengan situasi pertandingan, dan terus berkembang melalui setiap laga.
“Saya selalu menekankan kepada anak-anak untuk memberikan yang terbaik di setiap kesempatan. Jadi kalau hasil dari sisi skornya nanti, ya itu rezeki dari yang di atas,” katanya.
Langkah Unesa kemudian berlanjut dengan menghadapi Universitas Negeri Malang (UM) di matchday kedua. Pertandingan tersebut berakhir imbang, sekaligus menjadi pengingat bahwa persaingan tidak akan selalu berjalan seperti yang diharapkan.
Rizky mengakui, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu catatan penting timnya dalam kompetisi ini. Bermain di luar kandang menghadirkan atmosfer dan kondisi lapangan yang tidak sepenuhnya dapat disimulasikan selama latihan.
“Catatan khusus untuk kompetisi ini adalah kita perlu cepat adaptasi dengan atmosfer bertanding dan kondisi lapangan. Karena situasi dan kondisi tersebut tidak bisa kita persiapkan di latihan, karena kita bukan tuan rumah. Sejauh ini anak-anak sudah menampilkan yang terbaik, alhamdulillah tidak ada yang cedera itu saja,” ungkapnya.
Di tengah persaingan, Rizky juga memastikan timnya mempelajari kekuatan seluruh lawan, termasuk ITS, Universitas Brawijaya (UB), dan UM. Menurutnya, setiap tim memiliki potensi berbahaya dengan motivasi dan karakter permainan masing-masing.
Antisipasi pun disiapkan, baik dari sisi teknis maupun nonteknis. Meski demikian, fokus utama Rizky tetap pada pengembangan timnya sendiri. Ia memahami bahwa universitas mengharapkan prestasi, tetapi memilih tidak membebani pemain dengan target juara sebelum kompetisi dijalani.
“Yang terpenting adalah saya janjikan bagaimana anak-anak bisa fight di setiap pertandingannya. Kami fokus dari pertandingan ke pertandingan. Tidak langsung target apakah kita bisa juara di regional, apakah kita bisa ke nasional. Tetapi bagaimana kita menatap pertandingan ke pertandingan,” tegasnya.
Bagi Rizky, prestasi bukan hanya soal hasil akhir, melainkan juga proses ketika pemain diberi kepercayaan untuk mengambil keputusan, menunjukkan kreativitas, dan bertanggung jawab atas permainan mereka. (DT)

