Pemain 3v3 Unnes Cerita Perjuangannya Masuk PB Djarum
Ryan Menjuarai Nomor 3v3 Regional Semarang

Ryan Adi Wicaksono (tengah) bersama Dian Ayu Pertiwi dan Muhammad Rafael, saat pertandingan 16 besar 3v3. (Foto: Fahmi Abdushshofi/Campus Leaue)
Smash keras dan teriakan penuh tenaga menjadi ciri Ryan Adi Wicaksono saat bertanding. Bersama Muhammad Rafael Ramadhani dan Dian Ayu Pertiwi, Ryan mengantar Universitas Negeri Semarang (Unnes) juara nomor 3v3 Regional Semarang dan lolos ke The Nationals.
Permainannya di lapangan terlihat "sangar". Namun, kesan itu berubah ketika berbincang langsung dengannya. Ryan, ynag pernah mengasah skill badmintonnya di PB Djarum, justru ramah dan punya kemauan kuat untuk terus berkembang menjadi pemain yang lebih baik.
Ryan menceritakan kecintaannya pada badminton, perjuangan menembus PB Djarum setelah beberapa kali gagal audisi, hingga kehidupannya sebagai student-athlete di Unnes. Perjalanan tersebut dimulai sejak kecil di Kudus dan terus membawanya ke berbagai level kompetisi.
Badminton membawa Ryan melewati perjalanan panjang sejak kecil. Lahir di Kudus, 1 Februari 2003, Ryan pertama kali mengenal badminton dari sang ayah. Awalnya, ia hanya ikut melihat orang tuanya bermain di pinggir lapangan. Rasa penasaran kemudian membuat Ryan mulai mencoba bermain sendiri.
Ketertarikan itu tumbuh saat Ryan duduk di kelas 2 SD. Ia masuk klub kecil di Kudus dan menghabiskan waktu sekitar dua hingga tiga tahun untuk mengasah dasar permainan. Kelas 4 SD menjadi titik berikutnya ketika Ryan bergabung dengan PB Champion Kudus.
Perjalanan menuju PB Djarum ternyata tidak mudah. Ryan beberapa kali mengikuti audisi dan harus menerima kegagalan sebelum akhirnya mendapat kesempatan masuk karantina.
"Audisinya tidak mudah. Bukan cuma sekali atau dua kali, saya sampai tiga kali ditolak. Akhirnya saya masuk karantina," ujar Ryan.

Ryan Adi Wicaksono saat berpasangan dengan Muhammad Rafael Ramadhani di sektor ganda putra. (Foto
Kesempatan pertama Ryan mengarah ke sektor tunggal, tetapi belum membuahkan hasil. Salah satu pelatih kemudian menyarankannya mencoba tes ganda putra di Jakarta. Kesempatan tersebut datang pada Februari 2016.
Perjuangan itu akhirnya terbayar. Ryan diterima PB Djarum dan mulai menjalani latihan dengan persaingan yang jauh lebih ketat. Ia juga mendapat pengalaman bertanding di berbagai kompetisi selama berada dalam sistem pembinaan PB Djarum.
"Kalau latihannya memang keras. Keras banget, dan saingannya juga tidak mudah, karena levelnya sudah nasional sampai internasional," kata Ryan.
Prestasi Ryan mulai terlihat dalam beberapa kompetisi. Tahun 2020, ia menjadi semifinalis Liga PB Djarum II dalam nomor beregu putra. Dua tahun berselang, Ryan menjadi juara Sirkuit Nasional C Banten pada nomor ganda campuran U23.
Memilih Fokus Kuliah
Tahun 2022 menjadi salah satu periode penting dalam perjalanan Ryan. Ia mengikuti Seleksi Nasional PBSI dan mampu mencapai posisi runner-up pada nomor ganda campuran dewasa. Hasil tersebut menjadi salah satu pencapaian penting sebelum perjalanannya bersama PB Djarum berakhir.
Ryan meninggalkan PB Djarum pada akhir 2022. Setelah itu, ia sempat berada dalam persimpangan. Kesempatan untuk melanjutkan karier ke luar negeri sempat dipertimbangkan, tetapi pendidikan akhirnya menjadi pilihan.
"Pada akhir 2022 saya keluar dari Djarum. Tahun 2023 juga sempat bimbang, antara mau ke luar negeri atau melanjutkan studi. Saya cukup lama mempertimbangkannya. Akhirnya, pada akhir 2023 saya memutuskan masuk kuliah di Unnes," jelasnya.
Ryan memilih Pendidikan Kepelatihan Olahraga di Fakultas Ilmu Keolahragaan Unnes. Pilihan tersebut membuatnya tetap berada di lingkungan olahraga, tetapi dengan tanggung jawab baru sebagai mahasiswa sekaligus atlet.
Prestasi Ryan pun berlanjut bersama Unnes. Salah satunya ketika ia menjadi juara POMNAS 2025 di Semarang. Sebelumnya, Ryan juga menjadi runner-up Swasta Nasional Polytron Gubernur Cup 2023 pada nomor ganda campuran.

Ryan Adi Wicaksono (tengah) saat membela Unnes di nomor 3v3 The Nationals. (Foto: Fahmi Abdushshofi/Campus League)
Rutinitas sebagai student-athlete membuat Ryan harus membagi waktu antara latihan, pertandingan, dan perkuliahan. Akademik tetap menjadi bagian penting karena Ryan juga menerima beasiswa dari PB Djarum.
Beasiswa tersebut memiliki persyaratan yang harus dipenuhi setiap semester. Ryan wajib menjaga IPK minimal 3. Jika berada di bawah batas tersebut selama dua semester berturut-turut, beasiswanya bisa dicabut.
"Beasiswa yang kami dapat juga dari Djarum. Sistemnya per semester dan kami harus punya IPK minimal 3. Kalau nilainya di bawah itu selama dua semester berturut-turut, beasiswanya bisa dicabut," ujar Ryan.
Karena itu, Ryan harus menjaga keseimbangan antara aktivitas sebagai atlet dan kewajibannya sebagai mahasiswa.
"Menjaga studi itu sangat penting. Setiap semester kita harus benar-benar fokus pada akademik dan non-akademik. Itu penting untuk mempertahankan beasiswa juga," katanya.
Kini Ryan sudah berada di semester tujuh. Setelah menyelesaikan perjalanan panjang sebagai atlet sejak usia dini, ia mulai memikirkan langkah berikutnya di dunia badminton.
Pendidikan Kepelatihan Olahraga membuka peluang bagi Ryan untuk menekuni dunia kepelatihan. Ia juga melihat kesempatan mengejar berbagai lisensi untuk menambah bekal setelah menyelesaikan pendidikan.
"Saya sebenarnya ingin menjadi pelatih dan mengembangkan kemampuan di bidang kepelatihan," ucapnya.
Untuk sekarang, Ryan masih menjalani perannya sebagai pemain Unnes. Badminton The Nationals menjadi salah satu panggung berikutnya. Bersama Unnes, ia turun di nomor ganda putra, 3v3, dan beregu. (GAP)