Sempat Tertinggal, Santana Tunjukkan Mental Juara
Ubah Pola Permainan dan Mengunci Kemenangan

Tunggal Putra UPI Bandung, Santana Angga Prawira dalam laga Quarter Final di di GOR KONI Bandung, Rabu (15/9). (Foto: Fahmi Abdushshofi/Campus League)
Sempat tertinggal 1-5 di awal gim penentuan, Santana Angga Prawira tidak membiarkan tekanan menguasai permainannya. Tunggal putra Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sekaligus unggulan pertama Campus League Badminton Regional Bandung itu bangkit untuk menyingkirkan Muhammad Arya Fauzan dari STIE STAN Indonesia Mandiri lewat rubber game 15-2, 17-19, 15-12 di GOR KONI Bandung, Rabu (15/9).
Santana mengawali pertandingan dengan sangat meyakinkan. Ia tampil percaya diri dan langsung mendominasi gim pertama hingga menang telak 15-2.
Namun, situasi berubah pada gim kedua. Santana mulai kehilangan fokus dan Fauzan mampu memanfaatkan momentum untuk memberikan perlawanan lebih kuat. Duel pun berlangsung ketat hingga Fauzan merebut gim kedua 19-17 dan memaksakan rubber game.
Tekanan semakin terasa bagi Santana ketika gim penentuan dimulai. Ia bahkan sempat tertinggal 1-5.
“Sempat tegang juga karena poin pertama langsung 5-1. Saya berpikir, bakal kalah atau tidak. Akhirnya saya coba menenangkan diri dan bermain saja,” ujar Santana.
Dalam kondisi tersebut, Santana mengubah pendekatan permainannya. Ia memilih bermain lebih berani, meningkatkan intensitas serangan, dan berusaha tidak mengikuti pola permainan Fauzan yang dinilainya kuat di depan net.
“Pas pindah tempat, saya langsung bermain lebih berani. Kalau ada bola naik, sebisa mungkin saya serang. Jangan terbawa permainan lawan karena netting dia bagus banget,” katanya.
Perubahan itu efektif. Santana perlahan mengejar dan membalikkan keadaan hingga akhirnya menutup gim ketiga 15-12. Kemenangan tersebut sekaligus mengantarnya ke babak semifinal.
Bagi Santana, laga ini juga menjadi pertemuan keempat dengan Fauzan. Tiga pertemuan sebelumnya selalu dimenangkannya tanpa harus bermain hingga rubber game.
Namun, kali ini Fauzan memberikan perlawanan berbeda, terutama setelah kehilangan gim pertama. Santana menilai perubahan pola permainan lawannya turut membuat pertandingan menjadi lebih sulit.
“Set kedua dia lebih safety, lebih tidak mau mati sendiri. Akhirnya saya yang banyak mati sendiri, jadi saya ikut tegang,” tuturnya.
Sebagai unggulan pertama, Santana mengakui status tersebut membawa tekanan tersendiri. Namun, ia menilai kemampuan mengelola tekanan menjadi bagian penting dari pertandingan.
“Kalau pressure sebagai unggulan pertama itu pasti ada. Sangat menjadi beban, tetapi tergantung bagaimana kita mengondisikannya di lapangan,” ujarnya.
Kini Santana tinggal selangkah lagi menuju partai puncak. Namun, targetnya sejak awal bukan sekadar semifinal atau podium.
“Target saya juara. Juara dua atau tiga itu bukan juara. Pokoknya juara satu,” pungkasnya. (DT)

