The Nationals Menguji Mentalitas Juara UII
Jawara Beregu Regional Semarang Siap Benahi Skuad

Status sebagai juara beregu Campus League Badminton Regional Semarang ternyata belum cukup menjadi bekal Universitas Islam Indonesia (UII) untuk menembus persaingan The Nationals Season 1.
Datang sebagai salah satu penantang serius gelar nasional, UII justru harus mengakhiri langkah lebih cepat. Pelatih UII Stefanus Deby Pradipta menilai performa anak asuhnya belum maksimal, terutama pada sektor ganda putri yang menjadi salah satu titik lemah tim.
UII datang ke Bandung dengan skuad winning team yang diperkuat Alfira Deanika, Apta Sela Dihyan Nandana, M Billawal Aryo Jatmiko, M Danish Maulad Ferary, Jovita Aneira P H, Yekti Titah Siheng Gusti, Alexandria Da Matta, dan M Arif Wijaya.
Bergabung di Grup B, UII langsung menghadapi persaingan ketat. Mereka membuka perjalanan dengan kekalahan 1-2 dari Universitas Sebelas Maret (UNS), kemudian bangkit dengan kemenangan 2-1 atas Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Namun, langkah UII kembali terhenti pada laga penentuan di GOR Bandung, Kamis (24/9). Menghadapi Universitas Gunadarma, UII kalah 0-2 sehingga harus mengakhiri perjalanan di fase grup.
“Kurang maksimal ya, kami kurang maksimal. Khususnya di sektor ganda putri, kami memang kalah dari tim-tim yang lain,” ujar Coach Stefy yang menegaskan hasil di The Nationals ini belum mencerminkan kemampuan terbaik timnya.
Menurut Stefy, saspaan akrab Stefanus, persoalan UII bukan semata-mata kemampuan teknik. Para pemain dinilai masih mampu bersaing, tetapi tekanan pertandingan di level The Nationals membuat aspek mental menjadi pekerjaan rumah terbesar.
“Yang pertama memang dari segi kemampuan sih sebenarnya teknik dan lain-lain kami nggak tertinggal jauh, tapi dari mental kami memang sedikit goyah,” katanya.
Tekanan tersebut semakin terasa ketika pemain menyadari setiap pertandingan menjadi penentu perjalanan tim. Kondisi itu membuat permainan UII tidak keluar secara lepas dan berujung pada sejumlah kesalahan sendiri.
“Karena udah tahu ini partai hidup mati (game terakhir melawan Gunadarma) ya istilahnya, jadi mainnya nggak lepas. Banyak errornya, terus bolak-balik malah peluang dibuang-buang sendiri,” kata Stefy.
Menurutnya, situasi tersebut sangat berpengaruh terhadap sektor ganda putri. Kesalahan yang terjadi membuat perolehan angka melebar dan memberikan tekanan tambahan kepada sektor berikutnya.
Perbedaan kualitas persaingan antara Regional Semarang dan The Nationals juga menjadi pelajaran penting. Jika sebelumnya UII mampu keluar sebagai juara, di level nasional tidak ada lawan yang bisa dianggap mudah.
“Dari kualitas lawan lebih berat, ini jauh lebih berat. Enggak ada tim yang kami bisa menang dengan mudah, itu nggak ada,” tuturnya.
Dalam persaingan beregu yang sangat berimbang, kesiapan akhirnya menjadi pembeda. Stefy menilai bukan hanya kualitas teknis yang menentukan, tetapi juga kemampuan pemain menjaga fokus ketika tekanan meningkat.
“Apalagi dari beregu memang benar-benar siapa yang siap, lagi-lagi siapa yang siap, yang lebih siap dia yang lebih menang,” tegasnya.
The Nationals sekaligus menjadi pengalaman penting bagi UII yang sedang membangun tim baru. Stefy baru bergabung menangani tim sejak Juli dan langsung membawa skuad berlaga di UGM Cup sebelum tampil di Campus League.
“Saya awal Juli megang, masuk gabung jadi tim, langsung di bulan yang sama kami ada kejuaraan di UGM Cup. Alhamdulillah kami juga juara di situ. Terus itu menjadi acuan kami buat Campus League,” ungkapnya.
Hasil di The Nationals kini menjadi bahan evaluasi untuk membangun skuad yang lebih kompetitif. UII berencana mencari atlet baru sekaligus memperkuat sektor yang masih menjadi kelemahan.
“Kami tetap harus mencari atlet lagi buat skuad line-up kami biar lebih baik lagi. Terus dari tim, apa yang jadi kelemahan juga kami akan berusaha lebih baik lagi, kami akan siapkan lebih siap lagi,” katanya.
Bagi UII, kegagalan di The Nationals bukan sekadar hasil akhir, tetapi cermin untuk membaca kebutuhan tim di level nasional. Peralihan kepelatihan, pembenahan manajemen, kesiapan mental, hingga kedalaman skuad menjadi pekerjaan berikutnya agar pengalaman dari Semarang dan The Nationals dapat diterjemahkan menjadi fondasi untuk musim selanjutnya.
“Tim baru, kami peralihan dari pelatih lama ke pelatih baru. Tentu ini menjadi titik awal buat kami untuk berbenah, bagaimana manajemen, kepelatihan, terus dari atlet sendiri harus bagaimana. Itu menjadi acuan kami,” pungkasnya. (DT)

