UINPO Ingin Santri Berprestasi Lewat Futsal
Dari Pesantren Menuju Kompetisi Profesional

UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo (UINPO) akhirnya mencicipi kemenangan setelah menaklukkan Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (UNTAG) dengan skor 5-1 di GOR Futsal Pertamina ITS, Minggu (18/10/2026). Putri (Foto: Jaya Pratama/Campus League)
Keikutsertaan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo (UINPO) di Campus League Futsal Regional Surabaya Season 1 bukan sekadar mengejar hasil pertandingan. Tim ini bawa misi membuka jalan bagi santri di Ponorogo dan sekitarnya untuk mengembangkan bakat futsal hingga jenjang perguruan tinggi.
Pelatih UINPO, Yasin Subagyo, menilai Campus League menjadi ruang penting bagi mahasiswa, terutama mereka yang berlatar belakang pesantren dan belum banyak mendapat kesempatan bertanding di kompetisi sebelumnya.
“Kami berusaha mewadahi mereka di UINPO, dan ingin memperlihatkan dan membuktikan bahwa santri juga bisa berprestasi di futsal,” ujar Yasin seusai timnya menang 5-1 atas Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya di GOR Pertamina ITS, Minggu (18/10).

UINPO menutup partisipasinya di Regional Surabaya dengan satu kemenangan dan tiga kekalahan dari empat pertandingan. Meski hasilnya belum maksimal, pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi skuad yang mayoritas dihuni mahasiswa baru.
“Alhamdulillah, kami mendapat pengalaman berharga dari empat pertandingan yang dijalani, dengan tiga kekalahan dan satu kemenangan. Saya kira ini hal positif untuk keikutsertaan kami tahun depan,” kata Yasin.
Bagi Yasin, tantangan pembinaan tidak hanya terletak pada kemampuan pemain, tetapi juga kesempatan memperoleh jam terbang. Banyak santri memiliki minat terhadap futsal, tetapi sistem kehidupan berasrama di pesantren masih membatasi kesempatan mereka mengikuti kompetisi di luar lingkungan sekolah.
Potensi tersebut cukup besar di kawasan eks-Karesidenan Madiun, mengingat ada ratusan pondok pesantren di Ponorogo dan dua kabupaten tetangganya yaitu Madiun dan Magetan. Fakta ini memperlihatkan luasnya basis pendidikan pesantren yang berpotensi menjadi bagian dari pengembangan futsal daerah.
“Peningkatannya sekarang sudah luar biasa. Di Ponorogo, ada banyak pesantren yang sudah memiliki lapangan futsal yang bagus, meskipun outdoor namun sangat baik dan layak untuk dipakai. Juga banyak santri-santri dari luar kota itu, setahu saya basic futsalnya sudah ada dari mereka usia dasar,” ungkap Yasin.

Bagi UINPO, kondisi ini menjadi peluang untuk menjembatani minat santri dengan kesempatan berprestasi di perguruan tinggi. Kampus yang menyediakan beasiswa khusus student-athlete itu juga dapat menjadi salah satu jalur bagi pemain muda untuk melanjutkan pendidikan sekaligus mengembangkan kemampuan olahraga.
Pengalaman di Campus League turut memberi kesempatan bagi para pemain untuk mengukur kemampuan menghadapi lawan dengan kualitas permainan berbeda, seperti Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dan UNITOMO.
“Kami mendapat banyak pengalaman karena menghadapi lawan-lawan yang mungkin tidak bisa kami temui di daerah sendiri. Kami menghadapi UNESA dan UNITOMO, tim yang punya intensitas bermain sangat tinggi dan sistem permainan yang rapi,” ujarnya.
Pengalaman itu akan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas permainan sekaligus memperkuat pembinaan di daerah.
“Hal-hal positif dari lawan akan kami kembangkan di Ponorogo. Apa yang masih kurang dari tim kami, akan kami perbaiki dengan mengambil hal-hal baik dari mereka,” lanjutnya.
Ke depan, UINPO berharap keikutsertaan di Campus League dapat memperluas ekosistem futsal di kawasan Madiun dan sekitarnya, sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi mahasiswa untuk berkembang di lapangan tanpa meninggalkan pendidikan akademik. (DT)

