Kota Surabaya
Akhiri Musim dengan Rasa Bangga

Tiga kekalahan beruntun di fase grup Basketball Campus League Season 1 Regional Surabaya, ternyata tidak membuat Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) kecewa. Mereka justru mengaku puas, dan bahkan bisa bermain lepas di game terakhir kontra Universitas Airlangga di GOR Basket Unesa, Senin (27/4). Menutup kompetisi dengan kekalahan 96-46, “The Ships” pulang dengan kepala tegak.
Alih-alih tertekan, PPNS justru tampil lebih berani di laga penutup. Permainan mereka terlihat lebih cair, dengan pergerakan bola yang lebih hidup dibanding dua laga sebelumnya.
“Anak-anak bermain lebih lepas dan poin berhasil lebih banyak, skor mencapai 40-an. Jika membandingkan dari dua game sebelumnya, kami merasa puas karena targetnya memang untuk bisa mengimbangi lawan, ya sudah tercapai. Apalagi kalau melihat main lawan Unair ini, kami puas dengan penampilan anak-anak,” ungkap pelatih PPNS, M Haidar Azizi.
Target Sederhana
Sejak awal, target tim sebenarnya cukup sederhana: mencuri satu kemenangan dan merasakan atmosfer kompetisi antar kampus. Namun, situasi berubah ketika hasil drawing menempatkan mereka di grup berat bersama Universitas Cenderawasih (Uncen) dan Universitas Ciputra Surabaya (UCS).
“Kami malah masuk grup berat, akhirnya target berubah, yaitu jangan sampai kalah lebih dari poin 100. Tapi gagal karena kalah besar dari Uncen dan hanya bisa mengimbangi di quarter pertama, selain karena faktor persiapan kami yang hanya sebulan, bahkan saya hanya sebulan saja sebelum kompetisi, dihubungi anak-anak untuk melatih,” katanya.
Kendala Utama
Persiapan yang singkat memang jadi tantangan utama. Ditambah lagi kondisi fisik pemain yang belum optimal membuat tim kesulitan menjaga konsistensi permainan sepanjang laga. “Kendala utama adalah endurance anak-anak yang kurang siap sehingga fokus hilang dan dimanfaatkan oleh lawan,” lanjutnya.
Meski begitu, pengalaman ini jadi pelajaran berharga bagi sang pelatih yang sebelumnya lebih banyak berkecimpung di level sekolah melalui kompetisi DBL. Menurutnya, atmosfer di level kampus jauh lebih kompetitif dan menuntut kesiapan yang lebih matang.
Ia mengakui, Campus League menghadirkan persaingan yang ketat, sehingga setiap tim harus melakukan persiapan lebih panjang jika ingin berbicara banyak.
Masa Depan Pelatih
Soal masa depan, Haidar membuka peluang untuk kembali mendampingi tim jika kesempatan datang. “Saya sangat bersedia melatih lagi jika anak-anak masih mengontak saya, tapi jika tidak, saya rasa sudah cukup dengan pengalaman ini,” ujarnya.
Terlepas dari hasil di lapangan, ia memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan kompetisi. Menurutnya, Campus League berjalan dengan sangat profesional, rapi, dan layak menjadi agenda rutin bagi tim-tim basket kampus di Surabaya.
Bagi PPNS, perjalanan musim ini mungkin belum menghasilkan kemenangan. Tapi dari proses, pengalaman, dan sikao mereka menutup kompetisi ini jadi fondasi penting untuk melangkah lebih jauh ke depan.
Belum ada jadwal pertandingan tersedia
Campus League 2026 merupakan platform kompetisi olahraga, akademik, dan pengembangan komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia. Kami menyelenggarakan turnamen antar-perguruan tinggi nasional untuk cabang olahraga futsal, bola basket, dan bulu tangkis (badminton), serta kompetisi seni kreatif (art competition). Melalui program pembinaan student-athlete, kami fokus menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan performa akademis di ruang kelas.
Setiap partisipan diwajibkan memenuhi kriteria indeks prestasi kumulatif (IPK) minimum dan menyelesaikan aksi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi bersama berbagai universitas terbaik di Indonesia dan didukung oleh sponsor terkemuka, kami berkomitmen melahirkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berintegritas tinggi, berjiwa sosial, dan siap bersaing di kancah profesional dunia kerja.