Campus League 2026 merupakan platform kompetisi olahraga, akademik, dan pengembangan komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia. Kami menyelenggarakan turnamen antar-perguruan tinggi nasional untuk cabang olahraga futsal, bola basket, dan bulu tangkis (badminton), serta kompetisi seni kreatif (art competition). Melalui program pembinaan student-athlete, kami fokus menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan performa akademis di ruang kelas.
Setiap partisipan diwajibkan memenuhi kriteria indeks prestasi kumulatif (IPK) minimum dan menyelesaikan aksi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi bersama berbagai universitas terbaik di Indonesia dan didukung oleh sponsor terkemuka, kami berkomitmen melahirkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berintegritas tinggi, berjiwa sosial, dan siap bersaing di kancah profesional dunia kerja.
Kota Cimahi
Chemistry dibangun di lapangan, komunikasi jadi kunci kemenangan

Tidak ada latihan khusus bertiga. Tidak ada waktu panjang untuk membangun chemistry. Namun, Tim 3x3 STKIP Pasundan justru mampu keluar sebagai juara nomor individu 3x3 Badminton Campus League Regional Bandung.
Deandra Ikhsan Gunawan, Rangga Arda Rheta, dan Agnia Sri Rahayu menjadi kejutan setelah menaklukkan Universitas Gunadarma dua gim langsung, 15-10, 15-5, dalam laga final di GOR KONI Bandung, Rabu (16/9).
Hasil tersebut terasa semakin spesial karena ketiganya belum benar-benar memiliki kesempatan berlatih bersama dalam formasi tiga pemain.
Masing-masing lebih banyak menjalani latihan individu. Deandra bahkan baru kembali dari SIRNAS di Yogyakarta. Sementara latihan bersama bertiga praktis belum menjadi bagian dari persiapan mereka menuju Campus League.
“Kita belum pernah latihan bareng triple gini sebetulnya. Nah, cuman dari kemarin kita selalu berusaha buat komunikasi di setiap poin,” ujar Deandra dalam press conference di Media Center Campus League, di GOR KONI Bandung, Rabu (16/9).
Alih-alih menjadi hambatan, kondisi tersebut justru membuat mereka harus cepat mengenali karakter masing-masing ketika pertandingan dimulai.
Babak pertama menjadi fase penting. Ketiganya perlahan membaca cara bermain rekan setim, mencari posisi yang nyaman, sekaligus memahami kapan harus mengambil keputusan.
“Waktu pas main hari pertama itu, kita lebih kayak ngenakin satu sama lain. Saling kayak, ‘Oh Rangga mainnya kayak gini, enaknya kayak gini, Agni enaknya kayak gini, saya enaknya kayak gini’,” tutur Deandra.
Proses tersebut menjadi modal berharga ketika pertandingan memasuki fase-fase krusial. Dalam format 3x3, permainan berlangsung cepat dan setiap poin memiliki arti besar. Dengan target 15 poin, komunikasi menjadi kebutuhan utama agar tiga pemain tidak berjalan dengan pemikiran masing-masing.
Rangga mengakui, tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana menyatukan tiga kepala dengan karakter permainan yang berbeda. “Mungkin kendalanya tuh di komunikasi. Karena kan ini juga kasarnya menyatukan tiga kepala, tiga pikiran,” kata Rangga.
Dari situ, mereka sepakat membutuhkan sosok yang mampu menjadi pengarah permainan. Dalam sejumlah situasi, Agnia dipercaya mengambil keputusan, sementara Rangga dan Deandra mengikuti pola yang sudah disepakati. “Memang harus benar-benar ada yang satu bisa memimpin,” lanjut Rangga.
Agnia melihat kebutuhan tersebut semakin penting karena tempo permainan 3-on-3 sangat berbeda dengan nomor yang biasa mereka mainkan. “Komunikasi itu bener-bener ya buat 3-on-3. Apalagi mainnya sangat cepat. Jadi dibutuhin leader yang bener-bener mantep,” ujarnya.
Menariknya, STKIP Pasundan juga tidak melihat ada tim yang memiliki jarak kekuatan terlalu jauh. Menurut Rangga, persaingan justru relatif merata sehingga setiap tim harus mampu menutup kelemahan masing-masing. “Semua sama rata. Tergantung dari leadernya sih yang saya rasain. Jadi lebih pinter nutupin lemahnya aja sih,” ucapnya.
Strategi itu pula yang mereka bawa ketika menghadapi Gunadarma di final. STKIP Pasundan membaca pola permainan lawan dan berusaha menjaga agar kelemahan mereka tidak menjadi sasaran.
Setelah melewati seluruh pertandingan hingga menjadi juara, ketiganya mengaku format 3-on-3 memberikan pengalaman berbeda. Bagi atlet yang terbiasa bermain tunggal atau ganda, bermain dalam tim berisi tiga pemain menghadirkan tantangan baru sekaligus keseruan tersendiri. “Ini suatu pengalaman baru sih buat kita,” kata Deandra.
Bahkan, gelar juara membuat pengalaman perdana tersebut terasa semakin berkesan. “Apalagi kami kan langsung juara, jadi langsung menarik banget. Kayak ayo lagi, ayo lagi,” tambahnya.
Soal apakah ketiganya akan kembali bersama pada Campus League tahun depan, belum ada keputusan. Mereka memilih melihat perkembangan masing-masing lebih dahulu.
Namun, satu pelajaran sudah mereka bawa pulang dari Bandung: ketika waktu latihan bersama terbatas, komunikasi, adaptasi, dan kemauan untuk saling menutup kekurangan bisa menjadi chemistry yang tumbuh langsung di lapangan.
“Enggak ada kekuatan kita, kompak aja satu sama lain, tutupin kekurangannya,” pungkas Deandra. (DT)
Yogyakarta
.png&w=3840&q=75)
Universitas Jenderal Soedirman
23 Oktober 2026
09.00 WIB

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Universitas Tidar
23 Oktober 2026
14.00 WIB

Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto

Universitas Tidar
23 Oktober 2026
15.45 WIB

Universitas Gadjah Mada

Zilfa Zevanya Akan Tampil di IWL

PU Sempat Tak Dapat Poin di Tunggal Putra dan Ganda Putra

Kalahkan Gunadarma dalam 2 Gim Langsung

Deandra Ikhsan G./Agnia Sri Rahayu Kalahkan Pasangan Trisakti