Campus League 2026 merupakan platform kompetisi olahraga, akademik, dan pengembangan komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia. Kami menyelenggarakan turnamen antar-perguruan tinggi nasional untuk cabang olahraga futsal, bola basket, dan bulu tangkis (badminton), serta kompetisi seni kreatif (art competition). Melalui program pembinaan student-athlete, kami fokus menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan performa akademis di ruang kelas.
Setiap partisipan diwajibkan memenuhi kriteria indeks prestasi kumulatif (IPK) minimum dan menyelesaikan aksi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi bersama berbagai universitas terbaik di Indonesia dan didukung oleh sponsor terkemuka, kami berkomitmen melahirkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berintegritas tinggi, berjiwa sosial, dan siap bersaing di kancah profesional dunia kerja.
Kota Jakarta Selatan
Berencana Melatih di Luar Negeri Setelah Lulus

Alya Ardelia ingin melanjutkan karier sebagai pelatih badminton di China setelah lulus kuliah. Keinginan itu muncul setelah ia lebih dulu meraih gelar juara Badminton The Nationals Season 1 bersama Universitas Budi Luhur (UBL).
Berpasangan dengan Khaddaffy Ramadhan, Alya menjadi juara ganda campuran pada The Nationals. Gelar tersebut menambah catatan prestasinya sekaligus menjadi salah satu pencapaian terbaru selama membela UBL.
Setelah menyelesaikan kuliah, Alya ingin tetap berada di dunia badminton, tetapi tidak hanya sebagai pemain. China menjadi negara yang ingin ditujunya untuk melanjutkan karier sebagai pelatih.
“Sebenernya kalau lulus dari sini pengen ke China sih,” kata Alya.
Keinginan tersebut tidak muncul begitu saja. Alya melihat banyak atlet yang kemudian beralih ke dunia kepelatihan di China. Ia juga sudah mulai menjalani peran tersebut di Indonesia dengan melatih di salah satu klub badminton di kawasan Ciputat.
“Soalnya sekarang atlet banyak yang melatih di China. Pertama karena gajinya besar, kedua saya juga sudah ada pengalaman melatih di sini,” ujarnya.

Aksi Alya Ardelia bersama Khaddaffy saat laga The Nationals. (Foto: Fahmi Abdushshofi/Campus League)
Pengalaman sebagai pemain menjadi bekal yang ingin dibawa Alya ketika nantinya menekuni kepelatihan secara lebih serius. Ia juga melihat profesi pelatih bisa menjadi perjalanan panjang setelah masa sebagai atlet berakhir.
Rencana Alya pun memiliki sejumlah contoh dari pelatih Indonesia yang berkarier di luar negeri. Rexy Mainaky menangani sektor ganda Malaysia, sedangkan Herry Iman Pierngadi menjadi kepala pelatih ganda putra Malaysia.
Lalu ada Flandy Limpele melatih tim nasional Republik Ceko dan Irwansyah menangani sektor tunggal putri India. Tri Kusharjanto juga melanjutkan karier kepelatihan di GX Badminton, Calgary, Kanada.
Bahkan Agil Firmansyah, pemain Universitas Terbuka yang mengikuti Regional Semarang Season 1, juga menjadi salah satu nama yang menekuni kepelatihan badminton di China.
Masuk ke UBL dengan Beasiswa
Sebelum memikirkan masa depan sebagai pelatih, Alya lebih dulu membangun perjalanan sebagai student-athlete. Ia memilih UBL setelah mendapat informasi dari sang kakak yang merupakan alumni kampus tersebut.
“Pertama kan saya daftar dulu di sini. Terus kebetulan juga kakak saya alumni di UBL. Jadi saya akhirnya daftar ke sini,” tutur Alya yang juga bermain di klub legendaris, Jaya Raya.
Alya kemudian mendaftar dengan membawa sertifikat prestasi dan diterima melalui Beasiswa A. Kesempatan tersebut membuatnya bisa melanjutkan pendidikan sekaligus tetap menjalani aktivitas sebagai atlet.
Prestasi Alya sudah terbentuk sebelum bergabung dengan UBL. Pada 2019, ia menjadi juara SIRNAS Premier di Surabaya dan Purwokerto serta meraih gelar Junior Grand Prix di Jaya Raya Bintaro.
Bersama UBL, koleksi prestasinya berlanjut. Alya pernah menjadi runner-up salah satu kompetisi antarkampus pada 2023 nomor ganda putri dan juara Pemprov 2025 DKI Jakarta. Gelar The Nationals bersama Khaddaffy kini menambah catatan tersebut.

Alya Ardelia dan Khaddaffy Ramadhan memamerkan medali emas ganda campuran The Nationals. (Foto: Fahmi Abdushshofi/Campus League)
Latar belakang keluarga juga membuat badminton sudah dekat dengan kehidupan Alya sejak lama. Hampir seluruh keluarganya merupakan pemain badminton. Ia pun menjalani latihan di Jaya Raya sebelum kemudian memperkuat UBL.
“Karena kebetulan keluarga, seluruh keluarga pemain bulu tangkis juga,” katanya.
Kesibukan sebagai atlet tetap berjalan beriringan dengan kuliahnya di Ilmu Komunikasi dan Desain Kreatif. Jadwal latihan UBL berlangsung dua kali dalam sepekan sehingga masih bisa disesuaikan dengan jadwal perkuliahan.
“Karena kan kalau misalkan latihan ini kan kita seminggu dua kali ya. Jadi masih bisa menyesuaikan kalau misalkan ada kuliah dan latihan,” ujarnya.
Saat pertandingan bertepatan dengan tugas kuliah, Alya lebih dulu berkomunikasi dengan dosen. Ia bisa mengerjakan tugas sebelum pertandingan atau menyusulkannya setelah kembali bertanding.
Gelar The Nationals menjadi pencapaian terbaru Alya bersama UBL. Setelah lulus nanti, ia ingin tetap berada di dunia badminton dan melanjutkan pengalaman melatih yang sudah dijalaninya, di luar negeri. (GAP)
Yogyakarta
.png&w=3840&q=75)
Universitas Jenderal Soedirman
23 Oktober 2026
09.00 WIB

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Universitas Tidar
23 Oktober 2026
14.00 WIB

Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto

Universitas Tidar
23 Oktober 2026
15.45 WIB

Universitas Gadjah Mada

UBL Menang setelah Hadapi Laga Sengit 3 Gim

Hadapi Laga Berat Melawan Pasangan UNJ

Kalahkan Universitas Gunadarma 2-1

Bagus Suryato dkk Melaju ke Semifinal Regional Bandung