Kota Surabaya
Bintang Menilai Basket Memberi Banyak Ilmu

Bagi Muhammad Wildan Hilmiyan Bintang, basket bukan sekadar olahraga. Di usia 21 tahun, student-athlete Universitas Ciputra Surabaya yang sedang mengikuti Basketball Campus League Season 1 Regional Surabaya ini membuktikan bahwa bola oranye bisa jadi jalan hidup, bahkan membuka pintu menuju pendidikan tinggi.
Dengan tinggi 190 cm dan bermain di posisi guard, Wildan menjalani peran ganda sebagai mahasiswa Fakultas Bisnis Management sekaligus atlet kampus. Tapi perjalanan menuju titik ini jauh dari kata instan.
Akrab disapa Bintang, ia berasal dari keluarga sederhana. Ibunya adalah petani di Lumajang, di sebuah sudut kampung yang berada di kawasan kaki Gunung Semeru. “Ibu petani bawang, kadang juga padi. Panennya nggak tiap bulan, harus nunggu tiga bulan, itu pun belum tentu berhasil,” ujarnya.
Kondisi itu membentuk cara pandangnya sejak kecil. “Kalau gagal panen ya nggak ada pemasukan. Jadi dari situ saya belajar hemat, belajar disiplin, biar nggak nyusahin orang tua.”
Awal yang Tak Direncanakan
Menariknya, basket bukan pilihan awal Wildan. Ia sempat menjajal sepak bola dan voli sebelum akhirnya beralih ke basket saat duduk di bangku SD. “Awalnya cuma diajak teman waktu kelas 6 SD. Karena kebetulan badan saya tinggi juga waktu itu.”
Dari sekadar ikut-ikutan, bakatnya mulai terlihat. Titik balik datang saat ia mendapat kesempatan mengikuti seleksi beasiswa ke SMA di Solo. “Akhirnya dapet beasiswa 100 persen di SMA. Dari situ mulai serius dan ikut banyak kejuaraan.”
Setelah lulus SMA, Wildan sempat berada di fase tidak pasti. Sampai akhirnya sebuah informasi sederhana mengubah arah hidupnya. “Dapet info dari kating di Universitas Ciputra, namanya Ko Juan. Dia juga orang Probolinggo, jadi ngasih tahu ada seleksi beasiswa.”
Tanpa banyak pertimbangan, Wildan mencoba ikut seleksi beasiswa dan berhasil. Beasiswa itu menjadi titik krusial dikehidupannya. “Kalau nggak dapet beasiswa, kemungkinan saya nggak kuliah. Mungkin langsung kerja.”
Hidup di Dua Dunia
Kini, Wildan hidup di dua dunia: akademik dan olahraga. Keduanya berjalan beriringan. “Kalau dari aku sih harus imbang. Tapi coach selalu ngingetin, IPK juga harus dijaga.”
Di lapangan, ia belajar hal-hal yang tak diajarkan di kelas. Baginya, nilai-nilai ini justru jadi bekal utama untuk masa depan. “Basket itu ngelatih disiplin banget. Kita harus on time, harus komunikasi. Di lapangan nggak bisa diam.”
Keikutsertaannya dalam Campus League juga memberi pengalaman berbeda. Ia melihat kompetisi ini bukan sekadar pertandingan, tapi ruang berkembang bagi student-athlete. “Adanya Campus League sangat membantu buat jam terbang. Kami dapet lawan-lawan yang berkualitas.”
Bahkan hal kecil pun terasa bermakna dan ia begitu mensyukurinya. “Dapet tumbler, baju, ransel yang simple. Kayaknya sederhana ya, tapi itu bikin seneng, karena jarang dapet di kompetisi lain. Pas banget botol minum saya rusak, eh dapet tumbler, gratis, seneng karena nggak ngeluarin uang lagi buat beli,” katanya polos.
Basket sebagai Batu Loncatan
Wildan sadar, tidak semua atlet kampus akan berkarier di olahraga profesional. Namun baginya, itu bukan masalah. “Basket itu ngelatih mental, disiplin, komunikasi. Itu yang kepake nanti di kerjaan.”
Ia melihat olahraga sebagai batu loncatan, bukan tujuan akhir.
Penggemar pebasket Amerika Serikat James Harden ini menyampaikan pesan yang sederhana namun kuat, khususnya bagi mereka yang punya latar belakang seperti dirinya. Ia percaya, kesempatan itu nyata.
“Yuk semuanya tetap semangat. Sekarang banyak sekolah dan kampus yang kasih beasiswa dari olahraga. Ini bisa jadi jalan buat dapet gelar S1 pertama di keluarga. Saya juga berharap bisa jadi yang pertama.”
Cerita Wildan adalah bukti bahwa olahraga bisa menjadi pintu perubahan hidup. Dari ladang di Lumajang ke bangku kuliah di Surabaya, semuanya dimulai dari satu keputusan kecil: mencoba.
Dan seperti yang ia katakan dengan yakin: “Basket itu sangat membuka jalan.”
Belum ada jadwal pertandingan tersedia

Sukses Redam Unair, Optimis Tundukan Uncen
Frederico Nathaniel Catat 31 Poin untuk Unair

Kantongi Catatan Penting untuk Game Berikutnya

L Bunawan dari PPNS cetak poin terbanyak
Campus League 2026 merupakan platform kompetisi olahraga, akademik, dan pengembangan komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia. Kami menyelenggarakan turnamen antar-perguruan tinggi nasional untuk cabang olahraga futsal, bola basket, dan bulu tangkis (badminton), serta kompetisi seni kreatif (art competition). Melalui program pembinaan student-athlete, kami fokus menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan performa akademis di ruang kelas.
Setiap partisipan diwajibkan memenuhi kriteria indeks prestasi kumulatif (IPK) minimum dan menyelesaikan aksi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi bersama berbagai universitas terbaik di Indonesia dan didukung oleh sponsor terkemuka, kami berkomitmen melahirkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berintegritas tinggi, berjiwa sosial, dan siap bersaing di kancah profesional dunia kerja.