Campus League 2026 merupakan platform kompetisi olahraga, akademik, dan pengembangan komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia. Kami menyelenggarakan turnamen antar-perguruan tinggi nasional untuk cabang olahraga futsal, bola basket, dan bulu tangkis (badminton), serta kompetisi seni kreatif (art competition). Melalui program pembinaan student-athlete, kami fokus menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan performa akademis di ruang kelas.
Setiap partisipan diwajibkan memenuhi kriteria indeks prestasi kumulatif (IPK) minimum dan menyelesaikan aksi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi bersama berbagai universitas terbaik di Indonesia dan didukung oleh sponsor terkemuka, kami berkomitmen melahirkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berintegritas tinggi, berjiwa sosial, dan siap bersaing di kancah profesional dunia kerja.
Kota Bandung
Kalahkan UPI dan Tantang Marantha di Laga Puncak
Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) memastikan langkah ke Regional Finals Basketball Campus League Season 1 Regional Bandung setelah mengalahkan tuan rumah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dengan skor 61-44 di UPI Gymnasium, Kamis (21/5).
Kemenangan ini terasa spesial bagi Unpar. Bukan hanya karena mereka berhasil menyingkirkan tuan rumah di hadapan pendukungnya sendiri, tetapi juga karena hasil tersebut memastikan tiket menuju The National.
Dalam pertandingan yang berlangsung dengan intensitas tinggi, Unpar menunjukkan ketenangan saat momentum pertandingan beberapa kali berubah.
Pelatih Unpar, Arifin, memberikan apresiasi besar kepada para pemainnya yang mampu mempertahankan fokus sepanjang pertandingan. Menurutnya, kemenangan ini lahir dari semangat juang yang tidak pernah padam meski kondisi tim jauh dari ideal.
“Tight game ya. Cuma saya apresiasi anak-anak Unpar. Kita hanya datang dengan sembilan pemain dan yang benar-benar bisa bermain itu sekitar tujuh orang,” ujar Arifin.
Ia mengungkapkan bahwa beberapa pemain bahkan masih mengalami kelelahan fisik akibat padatnya jadwal pertandingan dalam beberapa hari terakhir. Namun, kondisi tersebut tidak mengurangi semangat bertanding timnya.
“Sampai keram-keram dua hari ini. Dua game terakhir juga keram terus. Tapi saya salut karena mereka tetap fight,” lanjutnya.
Arifin menilai salah satu kunci kemenangan Unpar adalah kemampuan mengontrol tempo permainan. Saat UPI sempat memangkas jarak poin hingga hanya tersisa dua angka pada kuarter ketiga, para pemain Unpar tetap tenang dan tidak kehilangan arah permainan.
“Kita bisa ngatur tempo. Memang hampir dikejar sampai selisih dua poin di kuarter ketiga, tapi momentum itu tidak sampai membalikkan pertandingan,” katanya.
Menurutnya, peran para ball handler menjadi faktor penting dalam menjaga ritme permainan tetap stabil. Ia secara khusus memberikan apresiasi kepada Natasha Olivia dan rekan setimnya yang mampu membawa bola dari backcourt ke frontcourt dengan baik di bawah tekanan lawan.
Kini, Unpar akan menghadapi Universitas Kristen Maranatha di Regional Finals. Di atas kertas, Arifin mengakui lawannya memiliki kedalaman skuad yang sangat baik. Namun, ia memastikan timnya tetap datang untuk bersaing.
“Kalau secara materi memang mereka lebih dalam. Tapi kita coba compete sejauh mana anak-anak bisa compete,” ujarnya.
Yang membuat Arifin optimistis adalah tekanan di timnya kini sudah jauh berkurang. Dengan tiket The National sudah di tangan, ia ingin para pemain menikmati pertandingan final tanpa beban berlebih.
“Saya bilang ke mereka, kita fight dulu di semifinal. Sekarang tinggal enjoy di final. Karena apa pun hasilnya, kita sudah berangkat ke nasional,” katanya.
Natasha Fokus Final
Hal senada disampaikan Natasha Olivia. Guard andalan Unpar itu mengaku timnya sempat merasakan tekanan pada awal pertandingan karena harus bermain di semifinal sekaligus menghadapi tuan rumah.
“Puji Tuhan hari ini kita bisa main. Awalnya memang agak sedikit grogi karena situasi semifinal dan main lawan tuan rumah,” kata Natasha.
Namun, setelah mampu melewati tekanan tersebut, Unpar perlahan menemukan ritme permainan dan tampil lebih percaya diri.
“Puji Tuhan kita bisa melewati tahap-tahap itu dan akhirnya bisa step up lagi. Bersyukur juga bisa ke final bersama teman-teman,” lanjutnya.
Meski sudah memastikan tempat di The National, Natasha menegaskan target tim belum berhenti. Baginya, setelah berhasil mencapai final, tidak ada alasan untuk tidak mengejar gelar juara Regional Bandung.
“Kalau bisa juara ya juara dong. Sudah sampai final, kalau bisa juara, kenapa enggak?” ujarnya sambil tersenyum.
“Nanggung soalnya sudah di final kan,” tambahnya.
Setelah final, fokus berikutnya akan tertuju ke The National. Natasha menyadari tantangan yang menanti akan jauh lebih besar dengan hadirnya kampus-kampus terbaik dari berbagai regional.
“Pasti banyak tim hebat dari Jakarta, Yogyakarta, Samarinda, dan region lain. Tapi kita harus fight di National dan tunjukkan diri kita,” tutupnya. (GAP)
26 Oktober 2026
13.30 WIB

Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta