Malang
Main Tanpa Tekanan, Nikmati Proses di Lapangan

Universitas Ma Chung Malang (UMC) mungkin belum meraih hasil maksimal di Basketball Campus League Season 1 Regional Surabaya. Namun bagi mereka, kompetisi ini bukan semata soal menang atau kalah.
Bertanding di GOR Basket Unesa, Jumat (24/4), UMC harus menelan kekalahan kedua, kali ini dari Universitas Ciputra Makassar dengan poin telak 11-100.
Meski begitu, tim ini justru membawa perspektif berbeda. Mereka menjadikan kompetisi ini sebagai ruang belajar, membangun mental, dan yang terpenting: menikmati permainan.
Pelatih UMC, Mario Willem Pelupessy, menilai timnya masih perlu banyak pembenahan, terutama dari sisi persiapan. Ia tak ragu mengakui bahwa lawan tampil lebih siap.
"Overall, semua oke lah. Lagi-lagi tim putri kami masih harus berbenah di preparation. Good preparation pasti good result. Nah, kami preparation di tim putri kurang dan kami harus akuin lawan itu persiapannya lebih bagus, dan SDM-nya lebih oke jadi kami harus berbenah sih, tahun depan kami akan coba balik lagi dengan kondisi yang lebih baik."
Namun di balik evaluasi tersebut, Mario menanamkan satu hal penting kepada para pemainnya: bermain tanpa tekanan. Baginya, menikmati permainan justru jadi fondasi utama sebelum bicara target yang lebih besar.
"Tetap enjoy the game, saat kita enjoy kita mau ngelakuin apa aja itu aman dulu. Gak terlalu yang under pressure, overthinking sendiri. Saya selalu tanemin itu ke anak-anak."
Mario sadar anak-anak asuhnya butuh bermain lepas dan tidak dalam kondisi tertekan. "Kalau mereka enjoy, mereka bisa ngelakuin semuanya dengan benar dan fun. Karena saat ini kami belum sampe pada target tertentu. Kami menikmati dulu," jelasnya.
Semangat itu juga dirasakan langsung oleh kapten tim, Efrasia Revalina. Ia mengakui bahwa sejak awal timnya sudah menyadari tantangan besar yang dihadapi, mulai dari skill hingga postur lawan yang lebih unggul.
"Jujur, nggak nyangka. Karena kami dapat lawannya itu lebih dari kami, unggul dari kami. Entah itu dari skill, persiapan, atau postur. Jadi nggak apa-apa sih buat pengalaman aja."
Meski hasil di papan skor belum berpihak, UMC justru mendapatkan hal lain yang tak kalah penting: chemistry tim yang mulai terbentuk di tengah berbagai perbedaan.
"Meskipun poin kami kecil, tapi kami dapet pengalaman bertanding dan chemistry di antara kami terbentuk. Karena kan kami juga beda-beda fakultas, beda-beda jadwal kuliah, terus buat nyatuin sekian banyaknya itu juga butuh effort. Jadi di sini kami dapet kemistrinya, keberagamannya, dapet kebersamaannya juga."
Di atas semuanya, satu pesan yang paling sering digaungkan dalam tim tetap sederhana, yaitu main dengan hati yang ringan.
"Yang paling utamanya, yang paling sering Coach katakan ke kami adalah have fun aja. Gak usah mikir skor, gak usah mikir mereka lawannya kayak gimana. Yang penting kita enjoy the game aja."
Bagi UMC, perjalanan di Campus League mungkin belum berbuah kemenangan. Tapi dari sisi proses, mereka sedang membangun sesuatu yang jauh lebih penting untuk masa depan tim.
Belum ada jadwal pertandingan tersedia
Campus League 2026 merupakan platform kompetisi olahraga, akademik, dan pengembangan komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia. Kami menyelenggarakan turnamen antar-perguruan tinggi nasional untuk cabang olahraga futsal, bola basket, dan bulu tangkis (badminton), serta kompetisi seni kreatif (art competition). Melalui program pembinaan student-athlete, kami fokus menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan performa akademis di ruang kelas.
Setiap partisipan diwajibkan memenuhi kriteria indeks prestasi kumulatif (IPK) minimum dan menyelesaikan aksi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi bersama berbagai universitas terbaik di Indonesia dan didukung oleh sponsor terkemuka, kami berkomitmen melahirkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berintegritas tinggi, berjiwa sosial, dan siap bersaing di kancah profesional dunia kerja.