Kab. Bantul
Melihat Bakat Pemain dari Lingkungan Internal Kampus
Di tengah persaingan basket kampus yang semakin kompetitif, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memilih jalur berbeda dalam menjaring atletnya.
Belum adanya beasiswa atlet, Mereka berusaha menjaga denyut tim basketnya tetap eksis di persaingan basket Yogyakarta. Caranya adalah dengan merekrut pemain dari internal kampus.
Alih-alih mengandalkan rekrutmen eksternal, UMY membangun fondasi dari lingkungan internal. Kompetisi antar fakultas hingga fun games rutin menjadi “scouting ground” bagi tim pelatih. Dari sana, talenta-talenta baru bermunculan.
“Biasanya rekrutmen kami dari pertandingan antar fakultas di kampus. Kami juga rutin bikin fun games yang terbuka untuk mahasiswa UMY,” cerita Donna Prastya, pelatih UMY.
Bagi Donna, pendekatan ini bukan sekadar solusi keterbatasan, tetapi juga bagian dari identitas. Basket UMY tumbuh dari mahasiswa dan untuk mahasiswa. Setiap pemain yang masuk tim adalah hasil proses panjang, bukan sekadar nama yang datang dengan label.
Dari turnamen internal itu, Donna dan tim pelatih memantau satu per satu pemain. Mereka bukan hanya mencari skill, tetapi juga attitude dan komitmen.
“Jika ada pemain yang cukup oke, nanti kami pisahkan. Kami akan undang latihan di UKM,” tutur Donna.
Proses ini memang tidak instan. Tidak selalu menghasilkan pemain siap pakai. Namun, di situlah letak kekuatan UMY dengan membangun tim.
Musim ini, UMY turun di Basketball Campus League Regional Yogyakarta. Perjalanan mereka terbilang belum mulus. Di beberapa laga, UMY mampu menunjukkan permainan kolektif, terutama lewat transisi cepat. Namun, konsistensi masih menjadi pekerjaan rumah.
Hasil di Campus League Season 1 kali ini belum membawa UMY melangkah jauh. Mereka harus mengakui persaingan yang semakin ketat, terutama dari tim-tim yang memiliki kedalaman skuad dan sistem pembinaan lebih mapan.
Meski begitu, bagi UMY, hasil bukan satu-satunya tolok ukur.
“Selama ini UKM kami sebagai wadah kegiatan, yang paling penting mahasiswa bisa ada kegiatan dan ada kompetisi yang kami bisa mewakili,” jelas Donna.
Menjaga Eksistensi Basket Kampus
UMY memang memposisikan tim basket sebagai representasi kampus dalam kegiatan olahraga, bukan semata mesin prestasi. Tidak ada target tinggi yang dibebankan, tetapi ada tanggung jawab untuk tetap berpartisipasi dan menjaga eksistensi.
Namun bukan berarti basket UMY tidak punya mimpi besar. Harapan terhadap beasiswa atlet tetap ada, sebagai jalan untuk menjaga konsistensi performa tim.
“Pasti ada (keinginan beasiswa), kami ikut kompetisi di level kampus maunya juara. Kami bergantung ketika muncul yang bagus-bagus, timnya naik, dan ketika habis, kami drop. Maunya sih kalau ada beasiswa lebih konsisten,” ungkapnya.
Di UMY, solusi itu belum datang dalam bentuk beasiswa. Tapi mereka tidak berhenti. Karena bagi mereka, selama masih ada mahasiswa yang mau bermain, basket UMY akan tetap hidup. (GAP)
Belum ada jadwal pertandingan tersedia
Campus League 2026 merupakan platform kompetisi olahraga, akademik, dan pengembangan komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia. Kami menyelenggarakan turnamen antar-perguruan tinggi nasional untuk cabang olahraga futsal, bola basket, dan bulu tangkis (badminton), serta kompetisi seni kreatif (art competition). Melalui program pembinaan student-athlete, kami fokus menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan performa akademis di ruang kelas.
Setiap partisipan diwajibkan memenuhi kriteria indeks prestasi kumulatif (IPK) minimum dan menyelesaikan aksi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi bersama berbagai universitas terbaik di Indonesia dan didukung oleh sponsor terkemuka, kami berkomitmen melahirkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berintegritas tinggi, berjiwa sosial, dan siap bersaing di kancah profesional dunia kerja.