Kota Surabaya
Rasa grogi tidak cuma dirasakan tim yang kalah

Tip-off hari pertama Basketball Campus League Regional Surabaya Season 1, Rabu (22/4), langsung menyuguhkan cerita yang bukan cuma soal skor, tapi juga soal mental.
Atmosfer kompetisi di GOR Basket Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang terasa “lebih besar dari biasanya” bikin beberapa tim harus berjuang ekstra, bukan hanya untuk mengatasi lawan, tapi juga diri sendiri.
Sejumlah pelatih menilai kesiapan penyelenggaraan yang begitu matang justru memberi efek kejut bagi para pemain. Buat tim yang belum terbiasa tampil di panggung sebesar ini, tekanan terasa nyata sejak detik pertama gim dimulai.
Beberapa gim mempelihatkan gap skor yang terlalu jauh seperti tim putra Universitas Ciputra Surabaya vs Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) 58-26, atau tuan rumah Unesa Putri yang kalah 13-98 dari Universitas Surabaya Putri.
Kembali ke Titik Nol
Hal itu paling terasa saat tim Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) harus mengakui keunggulan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dengan skor mencolok 113-33 dalam gim di Grup D Putra. Di balik angka telak tersebut, ada cerita tentang mental yang belum sepenuhnya siap.
Pelatih UWKS, Didiet Wardana, melihat anak asuhnya seperti kembali ke titik nol. “Mungkin ini pertama kali setelah beberapa tahun nggak ada event, mereka serasa balik dari nol, lihat suasana, lihat mereka dijamu kayak atlet begini mereka sudah drop, kayak bawa beban mental yang berat.”
Menurutnya, lima menit awal jadi momen krusial yang menentukan arah permainan. “Kami sudah sampaikan ke anak-anak, lima menit pertama sebenernya penting banget, siapa yang berdiri dan sadar lebih dulu, dia yang akan bisa bermain.”
Ia pun menegaskan bahwa demam panggung hampir tak terhindarkan di event sebesar ini. “Ada, ini sudah pasti (demam panggung). karena ini kan event besar. Saya bilang event besar itu pasti lima menit yang dilihat, setelah lima menit kita bisa lihat siapa duluan yang siap, ternyata lawan yang lebih siap duluan.”
Kondisi tim juga makin berat setelah playmaker mereka mengalami cedera. Kombinasi faktor teknis dan mental membuat permainan tak berkembang.
“Mereka auto overthinking karena ngerasa beban, ya kami pelatih mau nerapin pattern ya akhirnya nggak jalan karena anak-anaknya terkunci di mental. Mereka harus bisa melepaskan diri dulu, baru bisa main lepas.”
Darurat Psikiater
Sambil berkelakar, pelatih yang supel ini bahkan menyoroti pentingnya pendampingan mental bagi atlet mahasiswa.
“Apalagi mereka ini mahasiswa, butuh pembinaan mental. Saya mau bilang ke pembina, kami butuh psikiater satu, kalau misalnya ada satu offisial yang bantu untuk urus mental anak-anak. Memang penting banget psikiater untuk level kompetisi besar seperti ini nih. Nggak main-main loh..”
Menariknya, rasa grogi justru muncul karena penyelenggaraan yang dianggap terlalu rapi dan profesional. Dari keberangkatan hingga penyambutan di venue, semua terasa seperti level kompetisi elite.
“Nah kelihatan momen pas dari kampus aja, berangkat bareng satu mobil, sampai di sini mereka lihat kelengkapan persiapan panitia semua, mereka serasa loh ternyata kita disambut sama Campus League ya.”
Ia menyebut, justru kesiapan panitia itulah yang membuat pemain semakin sadar bahwa mereka sedang tampil di ajang besar. “Kalau ini kan, masuk dari mulai depan aja, anak-anak udah takut, ngedrop, karena lihat kesiapan panitia dan kompetisinya. Justru ini ukuran kompetisi yang besar, levelnya beda, kita harus lebih siap.”
Butuh Adaptasi
Di sisi lain, cerita serupa juga datang dari tim pemenang. Pelatih ITS, M Rifki Al Husaini, mengakui anak asuhnya juga sempat tersendat di awal laga.
“Ketika kami jarang kompetisi, pas mulai ikut lagi, pasti demam panggung. Jujur anak-anak di quarter awal itu kena demam panggung, terlihat dari banyak field goal yang nggak masuk…”
Ia menambahkan, faktor adaptasi seperti lapangan dan bola juga jadi tantangan tersendiri. “Jujur ini kita pertama kali kami bertanding memakai bola Spalding, biasanya kan yang lain. Pengaruh banget, kami harus persiapan dan adaptasi lagi pastinya.”
Drama demam panggung di hari pembuka kemarin menyajikan cerita bahwa Campus League bukan sekadar ajang tanding biasa. Ini panggung besar yang menuntut kesiapan total skill, strategi, dan yang tak kalah penting --mental bertanding. (DT)
Belum ada jadwal pertandingan tersedia
Campus League 2026 merupakan platform kompetisi olahraga, akademik, dan pengembangan komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia. Kami menyelenggarakan turnamen antar-perguruan tinggi nasional untuk cabang olahraga futsal, bola basket, dan bulu tangkis (badminton), serta kompetisi seni kreatif (art competition). Melalui program pembinaan student-athlete, kami fokus menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan performa akademis di ruang kelas.
Setiap partisipan diwajibkan memenuhi kriteria indeks prestasi kumulatif (IPK) minimum dan menyelesaikan aksi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi bersama berbagai universitas terbaik di Indonesia dan didukung oleh sponsor terkemuka, kami berkomitmen melahirkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berintegritas tinggi, berjiwa sosial, dan siap bersaing di kancah profesional dunia kerja.