SURABAYA
Menjaga IPK 3,67 di Tengah Padatnya Jadwal Badminton

Daniel The Nalley menjalani peran sebagai mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) dan pemain badminton. Prestasinya di badminton cukup banyak, sementara akademiknya juga tetap berjalan dengan IPK 3,67.
Kecintaan Daniel terhadap badminton bermula dari sang ayah. Sejak kecil, ia sering melihat papanya bermain meski hanya sebagai penghobi. Daniel kemudian ikut mencoba olahraga tersebut dengan alasan sederhana, yakni ingin berolahraga dan menjaga kesehatan.
“Pengalaman pertama saya suka badminton itu karena lihat papa saya main. Papa saya bukan atlet, cuma hobi saja, cari sehat main badminton. Saya tertarik buat ikutan, hitung-hitung buat olahraga supaya lebih sehat,” kata Daniel yang bermain sebagai tunggal putra di Campus League Badminton Regional Semarang.
Dari sekadar mencoba, Daniel justru menemukan potensi dalam dirinya. Ia mulai serius menekuni badminton dan bergabung dengan klub HJS Raharjo di Surabaya saat duduk di kelas 4 SD.
Sebelum fokus ke badminton, Daniel sempat bermain sepak bola dan mengikuti latihan di sekolah sepak bola (SSB) dekat rumah. Namun, setelah mencoba tepuk bulu, ia merasa lebih nyaman dengan olahraga tersebut.
“Pertama karena badminton mainnya di indoor, jadi enggak terlalu panas. Yang kedua juga enggak kontak fisik. Cederanya minim daripada main sepak bola,” ujarnya.
Pilihan itu membawa Daniel menekuni badminton selama bertahun-tahun. Sejumlah prestasi berhasil diraih. Ia pernah menjadi juara Vasa Open 2023 dan Kejuaraan Provinsi Jawa Timur tahun lalu.
Daniel juga pernah menjadi juara turnamen antarmahasiswa UPN serta meraih posisi ketiga dalam kompetisi antarmahasiswa di Telkom.
Keseimbangan Akademik dan Badminton
Perjalanan sebagai atlet tidak membuat Daniel mengesampingkan pendidikan. Ia memilih masuk Unair yang merupakan kampus negeri melalui jalur akademik dan mengambil jurusan Ilmu Sejarah. Kini, ia menjalani semester tiga dengan 24 SKS.
Jadwal kuliah yang padat menjadi tantangan. Ada hari ketika Daniel harus mengikuti perkuliahan sejak pagi hingga sore. Kondisi tersebut membuatnya harus pintar mencari waktu untuk tetap menjaga kondisi fisik dan berlatih.
“Semester tiga ini saya ambil full 24 SKS. Ada yang kuliahnya sampai sore banget. Jadi saya mengakalinya dengan latihan malam, tapi bukan latihan badminton. Cuma latihan penguatan-penguatan, kayak gym,” tutur Daniel.

Selebrasi Daniel The Nalley saat berhadapan dengan Agil Firmansyah. (Foto: Jaya Pratama/Campus League)
Saat jadwal kuliah lebih longgar, ia memanfaatkannya untuk latihan badminton. Bagi Daniel, pembagian waktu menjadi bagian penting agar prestasi di lapangan tidak mengganggu kewajibannya sebagai mahasiswa.
Hasilnya terlihat dari capaian akademiknya. Di tengah aktivitas sebagai atlet, Daniel mampu menjaga IPK di angka 3,67. Angka tersebut menjadi bukti bahwa kesibukan bertanding tidak membuatnya meninggalkan pendidikan.
Unair juga memberikan dukungan ketika Daniel harus bertanding di luar Surabaya. Saat tampil di Badminton Campus League Regional Semarang, ia mendapat dukungan berupa akomodasi, biaya makan, hingga dispensasi perkuliahan.
“Dari biaya penginapan sampai makan, kampus men-support. Jadi atlet tinggal bertanding saja,” katanya.
Menurut Daniel, dispensasi menjadi hal penting karena tuntutan akademik di Unair cukup ketat. Dukungan dari UKM membuatnya tetap bisa mengikuti pertandingan tanpa harus mengorbankan perkuliahan.
Pada Badminton Campus League Regional Semarang, Daniel juga menghadapi tantangan baru. Ia berstatus sebagai salah satu unggulan, tetapi harus beradaptasi dengan sistem pertandingan 15 poin yang baru pertama kali dimainkannya.
Debutnya di Badminton Campus League, tak berjalan dengan manis. Ia harus mengakui keunggulan Agil Firmansyah dari Universitas Terbuka Semarang dengan rubber game, 15-13, 8-15, 13-15.
“Ini pengalaman baru saya dan juga pertama buat main di game 15. Game plan-nya itu harus gimana. Jadi kemarin saya pribadi game plan-nya maunya nyerang,” ujar Daniel.
Adaptasi belum sepenuhnya berjalan mulus. Daniel mengaku masih mencari pola permainan yang tepat untuk setiap fase pertandingan, termasuk menentukan strategi dari poin awal hingga akhir gim.

Daniel The Nalley saat berhadapan dengan Agil Firmansyah. (Foto: Jaya Pratama/Campus League)
Meski hasil di Regional Semarang belum sesuai harapan, ia mendapat pengalaman baru dari atmosfer Campus League. Sistem live streaming dan penyajian pertandingan membuat kompetisi terasa berbeda.
“Dengan adanya sistem live streaming ini jadi kayak menambah semangat. Jadi kan dipantau. Kemarin kebetulan main di court 1, biodata kita ditampilin di YouTube. Bahkan katanya masuk TVRI juga,” katanya.
Tak Mau Jauh dari Badminton
Selepas kuliah, Daniel tidak ingin jauh dari olahraga ini. Ia memiliki rencana untuk melanjutkan perjalanan di dunia olahraga tersebut, termasuk keinginan menambah pengalaman sebagai pelatih di di luar Indonesia.
Keinginan itu menjadi langkah berikutnya setelah bertahun-tahun menjalani karier sebagai pemain. Daniel ingin terus berkembang dan memperluas pengalaman di dunia badminton, termasuk dari sisi kepelatihan.
“Maunya sih ngelatih seperti ke China, gitu sih,” tutupnya singkat sembari tersenyum.
Meski begitu, Daniel saat ini masih fokus menyelesaikan dua tanggung jawabnya sebagai mahasiswa dan atlet. Kuliah tetap berjalan, latihan tetap dilakukan, dan Campus League Badminton Season 1 ini menjadi salah satu pengalaman berharga dalam kariernya. (GAP)
Belum ada jadwal pertandingan tersedia

Tanpa Beban dan Main Maksimal

Kalahkan UB dengan Skor 55-38

Target Terlampaui, Kini Bidik Posisi Tiga

Kuliah Jalan, Karier Basket Juga Ngebut
Campus League 2026 merupakan platform kompetisi olahraga, akademik, dan pengembangan komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia. Kami menyelenggarakan turnamen antar-perguruan tinggi nasional untuk cabang olahraga futsal, bola basket, dan bulu tangkis (badminton), serta kompetisi seni kreatif (art competition). Melalui program pembinaan student-athlete, kami fokus menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan performa akademis di ruang kelas.
Setiap partisipan diwajibkan memenuhi kriteria indeks prestasi kumulatif (IPK) minimum dan menyelesaikan aksi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi bersama berbagai universitas terbaik di Indonesia dan didukung oleh sponsor terkemuka, kami berkomitmen melahirkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berintegritas tinggi, berjiwa sosial, dan siap bersaing di kancah profesional dunia kerja.