Kab. Sleman
Pernah Memperkuat PB Djarum
Monica Ignacia Liaotando kini menjadi salah satu andalan tim putri Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJV). Namun, sebelum akrab dengan suara sepatu di lapangan basket, student-athlete asal Kudus, Jawa Tengah, itu lebih dulu tumbuh sebagai atlet badminton.
Bagi anak Kudus, badminton memang bukan olahraga asing. Kota Kretek dikenal sebagai rumah bagi PB Djarum, klub legendaris yang melahirkan banyak pemain besar badminton Indonesia. Di lingkungan itulah Monik, sapaan akrab Monica, mulai mengenal dunia olahraga kompetitif.
Menariknya, Monik justru berasal dari keluarga pecinta basket. Namun saat kecil, ia sama sekali tidak tertarik dengan olahraga tersebut.
“Keluargaku memang basket semua, tetapi malah dulu nggak tertarik dengan basket,” cerita Monik di sela-sela Basketball Regional Yogyakarta pekan lalu.
Sejak usia enam tahun, Monik sudah memegang raket. Ia sering ikut ayahnya ke lapangan hingga akhirnya mulai serius menekuni badminton. Monik bermain di sektor tunggal putri dan resmi bergabung dengan PB Djarum pada 2016.
“Karena waktu itu nggak tertarik basket, nah sama orang-orang dicariin olahraga apa yang bikin aku tertarik, nah bulu tangkis aku tertarik,” lanjutnya.
Karier bulu tangkis Monik berjalan cukup menjanjikan. Ia mengikuti berbagai turnamen nasional seperti Sirkuit Nasional Djarum. Bahkan, Monik pernah tampil di ajang internasional membawa nama Indonesia.
Salah satu pengalaman pentingnya datang saat tampil di ASTEC Regional Junior 2019 di Yogyakarta. Kala itu, Monik turun di nomor tunggal putri dan ganda putri.
Pada sektor ganda, Monik berpasangan dengan Rahma Elvira Jowitasari. Langkah mereka terhenti di babak 32 besar usai kalah dari pasangan Indonesia lainnya, Rade Roro Aninditya/Shandy Tirani Mahesi dengan skor 10-21 dan 18-21.
Sementara di nomor tunggal putri, Monik juga mencapai babak 32 besar sebelum dihentikan VR Nardhana dari India.
Main Basket Berujung Beasiswa
Selepas turnamen tersebut, Monik mulai memikirkan ulang jalannya sebagai atlet badminton. Pada 2020, ia memutuskan berhenti dari dunia yang sudah digelutinya sejak kecil. Keputusan itu ternyata membuka jalan baru yang sama sekali tidak ia rencanakan.
Basket datang dari hal sederhana, yakni bola yang tersedia di rumah.
“Iseng aja awalnya. Karena di rumah punyanya cuma bola basket, ya udah akhirnya main. Sampai akhirnya keterima beasiswa di SMA Warga Surakarta,” ucapnya.
Dari yang awalnya hanya coba-coba, Monik justru menemukan kenyamanan baru di basket. Ia merasa olahraga ini memberinya suasana berbeda dibanding badminton.
Jika di badminton ia bertanding sendiri, basket memberinya kebersamaan sebagai tim. Ada komunikasi, dukungan, dan energi yang membuatnya semakin menikmati permainan.
“Karena banyak temannya juga di basket. Jadi banyak suporternya juga. Kalau badminton kan sendirian di lapangan,” katanya.
Perjalanan basket Monik terus berkembang. Penampilannya membawa dirinya mengikuti seleksi beasiswa basket Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Ia pun lolos menjadi student-athlete.
“Ikut seleksi basketnya Atma Jaya, Puji Tuhan aku keterima. Beasiswa 100 persen,” lanjutnya.
Kini, Monik menjalani keseharian sebagai mahasiswa sekaligus atlet di kampus yang berada di kawasan Babarsari, Yogyakarta itu. Ia mengambil Program Studi Manajemen di Fakultas Bisnis dan Ekonomika dengan konsentrasi manajemen keuangan.
Sebagai student-athlete, Monik dituntut mampu menjaga keseimbangan antara akademik dan basket. Jadwal latihan, pertandingan, hingga tugas kuliah harus dijalani bersamaan.
“Susah (bagi waktunya),” ucapnya singkat sambil tertawa ketika ditanya perihal bagi waktu.
Meski begitu, Monik tetap berusaha menjaga performa di dua dunia tersebut. Ia ingin tetap berprestasi di basket tanpa mengesampingkan pendidikan yang sedang dijalaninya.
Monik bahkan sudah mulai memikirkan masa depan kariernya. Dengan belum adanya kompetisi profesional basket putri di Indonesia, ia memilih menyiapkan diri untuk berkarier di dunia kerja sesuai bidang studinya.
“Mungkin, karena belum ada kompetisinya (khusus basket putri), jadi fokus karier di studi saja,” ucapnya.
Pada Basketball Campus League Season 1 Regional Yogyakarta, Monik memang belum mampu membawa Atma Jaya Putri menjadi juara. Timnya harus puas finis di peringkat keempat.
Meski begitu, perjalanan Monik sebagai student-athlete sudah menunjukkan bagaimana dirinya berjuang membawa nama kampus di Campus Leaguie tanpa melupakan akademik. (GAP)
Belum ada jadwal pertandingan tersedia
Mereka Fokus Membangun Ulang Kekuatan
Sudah Saling Mengenal dengan UKSW
Kalahkan STIKES Nasional 77-56
Kalahkan UNS dengan Pertandingan Ketat
Campus League 2026 merupakan platform kompetisi olahraga, akademik, dan pengembangan komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia. Kami menyelenggarakan turnamen antar-perguruan tinggi nasional untuk cabang olahraga futsal, bola basket, dan bulu tangkis (badminton), serta kompetisi seni kreatif (art competition). Melalui program pembinaan student-athlete, kami fokus menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan performa akademis di ruang kelas.
Setiap partisipan diwajibkan memenuhi kriteria indeks prestasi kumulatif (IPK) minimum dan menyelesaikan aksi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi bersama berbagai universitas terbaik di Indonesia dan didukung oleh sponsor terkemuka, kami berkomitmen melahirkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berintegritas tinggi, berjiwa sosial, dan siap bersaing di kancah profesional dunia kerja.