Kota Semarang
Menjalani Peran Student-Athlete di Udinus dengan Imbang
Memasuki fase akhir kuliah di Universitas Dian Nuswantoro Semarang (Udinus), Ratri Ayu Pramesinta mulai berpikir bukan lagi sekadar soal menang di lapangan, tetapi bagaimana menyiapkan masa depan. Pilihannya masuk dunia kerja, khususnya perbankan, namun tanpa benar-benar meninggalkan bola basket.
Ratri saat ini merupakan bagian dari tim Udinus Putri yang tampil di Campus League Basketball Regional Yogyakarta. Ia datang ke kampus ini lewat jalur beasiswa student-athlete, jalur yang sejak awal menuntut konsistensi, baik secara akademik maupun performa di lapangan.
Perjalanan basket Ratri dimulai dari SMP di Ambarawa, Jawa Tengah. Awalnya ia hanya ikut-ikutan bermain setelah diajak kakak temannya. Namun, dari situ semuanya berubah.
Dengan postur yang mendukung, Ratri cepat beradaptasi. Ia mulai serius, masuk tim sekolah, dan dipercaya tampil di berbagai kejuaraan. Ritmenya terus naik, membawa Ratri melanjutkan karier basket ke jenjang SMA.
Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di SMA 1 Jekulo, Kudus, berkat prestasinya di SMP. “Di SMA aku juga dapat beasiswa,” cerita Ratri, Minggu (3/5).
Selepas lulus dari SMA 1 Jekulo, Kudus,, Ratri sempat berada di persimpangan. Ia berpikir untuk langsung bekerja. Tapi dorongan dari pelatihnya membuat arah hidupnya berubah.
“Alhamdulilah aku diterima di Udinus. Jadi ya ngalir aja terusin basketnya,” kata Ratri, yang kini menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Standar Tinggi Udinus
Masuk ke Udinus bukan berarti semuanya menjadi lebih mudah. Justru sebaliknya. Standar tinggi kampus ini memaksa Ratri untuk benar-benar disiplin. Beasiswa penuh memang diberikan, tetapi hanya untuk empat tahun, dengan syarat akademik yang ketat.
Di sinilah kehidupan sebagai atlet mahasiswa benar-benar terasa. Jadwalnya padat. Latihan pagi dan malam, tapi ia harus menjalani kuliah di sela-selanya. Namun, dirinya mampu mengatur jadwal dengan baik.
“Kalau aku enggak keganggu sih, karena di Udinus itu latihannya pagi dan malam. Aku kuliahnya ambil yang kelas siang, jadi kadang kuliah bisa dua atau tiga kali,” cerita Ratri.
Ia bahkan sudah menyusun ritme harian yang efisien.
“Nah, kalau aku pagi terus nanti aku kuliah jam setengah 10 dan 12, itu sudah dapat dua mata kuliah. Terus sorenya aku bisa istirahat dulu sebelum latihan jam enam,” jelasnya menambahkan.
Semua itu tidak datang dengan mudah. Ratri harus menyusun sendiri jadwal kuliahnya agar tidak berbenturan dengan latihan. Tidak ada ruang untuk salah hitung. Latihan sudah pasti, jadi kuliah yang harus menyesuaikan.
Selain itu, ada tekanan akademik yang harus dijaga. Standar Indeks Prestasi (IP) minimal menjadi “batas bawah” yang tidak boleh dilanggar.
“Indeks prestasiku harus di atas 3,20. Kalau tiga kali di bawah itu dapat peringatan agar jangan di bawah itu prestasinya,” tuturnya.
Basket Jalan, Karier Jalan
Sejauh ini, Ratri mampu menjaga performanya di dua sisi. Akademik aman, basket tetap jalan. Tapi seperti permainan yang memasuki kuarter akhir, keputusan besar mulai menunggu.
Ratri sadar waktunya sebagai mahasiswa tidak lama lagi. Ia mulai memikirkan langkah berikutnya. Pilihannya bukan meninggalkan basket, tetapi mencari cara agar tetap bisa bermain sambil membangun karier profesional.
Salah satu opsi yang paling realistis baginya adalah dunia perbankan, sektor yang menurutnya masih memberi ruang untuk tetap aktif di basket.
“Aku tuh sempat mikir, apa lanjut basket ya? Tapi aku juga ngerasa harus kerja karena sudah waktunya. Kemungkinan aku pengen bekerja seperti di bank yang ada basketnya,” ucapnya.
Bukan tanpa alasan ia memilih jalur ini. Ratri melihat banyak alumni Udinus yang sudah lebih dulu menjalani pola serupa. Bekerja di sektor perbankan, tetapi tetap aktif bermain basket di level kompetitif.
Bagi Ratri, itu adalah keseimbangan yang ideal. Ia tetap bisa menjaga identitasnya sebagai pemain basket, tanpa harus mengorbankan stabilitas masa depan.
Keinginan untuk bermain di level profesional sebenarnya tetap ada. Namun, ia tidak menjadikannya sebagai satu-satunya tujuan. Ratri lebih realistis guna memenuhi kebutuhannya di masa depan.
“Saat ini, lebih memilih ke situ (dunia kerja) sambil bisa juga bermain basket,” tutup Ratri.
Pilihan Ratri menggambarkan bagaimana student-athlete, bukan hanya soal mengejar kemenangan di lapangan, tetapi juga cerdas menentukan pilihan untuk masa depan. Ratri paham, kapan harus membangun pondasi dan tetap bermain basket. (GAP)
Belum ada jadwal pertandingan tersedia
Senang Bisa Hadapi Kampus Kuat
Kalahkan Atma Jaya dengan Pertandingan Ketat
Kegiatan Hariannya Cukup Padat

Atasi UAD dan Puncaki Klasemen Sementara
Campus League 2026 merupakan platform kompetisi olahraga, akademik, dan pengembangan komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia. Kami menyelenggarakan turnamen antar-perguruan tinggi nasional untuk cabang olahraga futsal, bola basket, dan bulu tangkis (badminton), serta kompetisi seni kreatif (art competition). Melalui program pembinaan student-athlete, kami fokus menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan performa akademis di ruang kelas.
Setiap partisipan diwajibkan memenuhi kriteria indeks prestasi kumulatif (IPK) minimum dan menyelesaikan aksi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi bersama berbagai universitas terbaik di Indonesia dan didukung oleh sponsor terkemuka, kami berkomitmen melahirkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berintegritas tinggi, berjiwa sosial, dan siap bersaing di kancah profesional dunia kerja.