Kota Jakarta Barat
Bawa Pengalaman di Timnas ke Esa Unggul

Nama Kadek Pratita Citta Dewi sudah lama identik dengan Timnas Basket Putri Indonesia. Perjalanannya bersama Merah Putih di SEA Games 2017, SEA Games 2019, SEA Games Hanoi 2021/2022, hingga FIBA Women’s Asia Cup Division B menjadikannya sebagai salah satu pemain timnas yang sarat pengalaman.
Bersama timnas, ia turut membawa Indonesia meraih medali perunggu dan perak di ajang SEA Games. Pencapaian terbaiknya hadir saat sukses mempersembahkan medali emas SEA Games Kamboja 2023, yang menjadi sejarah baru bagi Timnas Basket Putri Indonesia.
Kini, sosok yang akrab disapa Citta itu memulai karier baru. Bukan lagi sebagai pemain di lapangan, melainkan berdiri di area bench sebagai pelatih tim putri Universitas Esa Unggul (UEU) di kompetisi Basketball Campus League Regional Jakarta yang digelar di Basketball Court Universitas Pelita Harapan, Tangerang, Banten, 24-31 Mei 2026.
Bagi Citta, peralihan peran dari pemain ke pelatih ternyata tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Ia mengaku tantangan sebagai pelatih justru jauh lebih berat dibanding saat masih aktif bermain.
“Dulu pandangannya selalu sebagai pemain. Sekarang waktu jadi pelatih ternyata lebih sulit, jauh. Orang mungkin mikir karena dulu timnas jadi pasti gampang melatih, padahal as a player dan as a coach itu beda banget,” ujar Citta, Jumat (29/5).
Meski begitu, proses transformasi itu tidak dijalani sendirian. Dalam satu setengah tahun terakhir, ia banyak belajar soal kepelatihan, terutama mengenai bagaimana membangun program latihan jangka panjang untuk level kampus.
Menurutnya, menjadi pelatih bukan cuma soal menyusun strategi pertandingan. Ada detail-detail yang harus dibangun setiap hari. Mulai dari pembagian fase offense, defense, sampai bagaimana menjaga perkembangan pemain tetap konsisten sepanjang musim.
Hal itu pula yang kini coba ia tanamkan kepada para pemain Esa Unggul Putri. Citta membawa kultur yang selama ini ia dapatkan di level timnas. Bukan sekadar soal teknik, tetapi juga attitude dan cara berpikir di dalam game.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya datang saat bekerja bersama Coach Sophie Lin Chi Wen di SEA Games 2023. Dari sana, ia belajar bahwa basket level tinggi selalu dimulai dari detail kecil.
“Attitude itu nomor satu. Terus bagaimana membaca defense, making decision, sampai memahami proses di dalam game. Jangan cuma mikir hasil akhirnya menang atau kalah,” katanya.
Menurut Citta, gap antara basket kampus dan level timnas masih sangat jauh. Karena itu, ia mencoba membiasakan para pemainnya untuk lebih detail dalam membaca permainan.
Baginya, pemain hebat bukan hanya soal bisa mencetak angka. Namun juga memahami bagaimana proses terciptanya poin tersebut, kapan harus menyerang, kapan harus mengambil keputusan, hingga bagaimana tetap tenang ketika tertinggal dalam pertandingan.
“Kalau lagi tertinggal jangan langsung mikir kalah. Fokusnya bagaimana proses untuk keluar dari situasi itu. Cara membaca game-nya harus dibangun,” lanjutnya.
Di luar urusan teknis, Citta juga menghadapi tantangan khas basket kampus. Sebagian besar pemain Esa Unggul merupakan penerima beasiswa atlet. Artinya, mereka dituntut bukan hanya berprestasi di lapangan, tetapi juga menjaga performa akademik.
Esa Unggul bahkan memiliki standar tertentu untuk mahasiswa atlet, baik dari sisi akademis maupun prestasi UKM basket. Dalam setahun, tim ditargetkan terus menghadirkan pencapaian untuk kampus.
Karena itu, koordinasi antara kuliah dan latihan menjadi hal penting yang selalu dijaga.
“Kalau memang urgency-nya kuliah, ya tetap kuliah dulu. Tapi kami cari jalan tengah supaya latihan tetap jalan,” jelasnya.
Rindu Kompetisi Kampus
Meski kini menikmati perannya sebagai pelatih, rasa rindu menjadi pemain kampus ternyata masih belum hilang. Sebagai mantan student-athlete, Citta mengaku atmosfer kompetisi kampus selalu punya tempat spesial.
Bahkan sambil bercanda, ia mengaku siap jika suatu saat Campus League membuat kompetisi khusus antaralumni.
“Kalau boleh sih main lagi aja. Kangen banget. Perasaan buat main basket itu kayak nggak bisa hilang,” ucapnya sambil tertawa.
Namun di balik rasa rindu itu, ada kebanggaan baru yang kini ia rasakan dari bangku pelatih. Melihat para pemain berkembang dan mampu mengikuti detail-detail yang ia ajarkan menjadi pencapaian tersendiri dalam fase barunya di basket.
“Kalau lihat mereka berkembang, itu sudah cukup jadi achievement buat saya sekarang,” tutupnya.
Saat ini langkah tim putri Universitas Esa Unggul di Basketball Campus League Regional Jakarta harus terhenti pada fase grup. Namun, perjalanan mereka musim ini bisa menjadi langkah penting untuk berkembang.
Dengan pengalaman yang dibawa Kadek Pratita Citta Dewi dari level timnas ke bench kampus, bukan tidak mungkin The Swans bakal tampil lebih matang dan berbicara banyak pada musim berikutnya. (GAP)
Belum ada jadwal pertandingan tersedia
Campus League 2026 merupakan platform kompetisi olahraga, akademik, dan pengembangan komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia. Kami menyelenggarakan turnamen antar-perguruan tinggi nasional untuk cabang olahraga futsal, bola basket, dan bulu tangkis (badminton), serta kompetisi seni kreatif (art competition). Melalui program pembinaan student-athlete, kami fokus menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan performa akademis di ruang kelas.
Setiap partisipan diwajibkan memenuhi kriteria indeks prestasi kumulatif (IPK) minimum dan menyelesaikan aksi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi bersama berbagai universitas terbaik di Indonesia dan didukung oleh sponsor terkemuka, kami berkomitmen melahirkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berintegritas tinggi, berjiwa sosial, dan siap bersaing di kancah profesional dunia kerja.