Kota Jakarta Pusat
Perlu Evaluasi Sisi Ofensif

Belum jodoh. Universitas Indonesia (UI) Putri harus menunda mimpi menembus The Nationals Campus League musim ini. Mereka kalah dari STKIP Pasundan Cimahi Putri 0-3 dalam laga penentuan yang digelar di FIKK UNJ GOR Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Sabtu (29/11)
Namun di balik wajah-wajah letih dan skor yang tak berpihak, ada satu hal yang justru semakin jelas, bahwa UI bersiap kembali musim depan. Dengan energi baru, pemain baru, dan tekad yang tidak luntur sedikit pun.
Pelatih UI Putri, Naufal Adhila, bisa dibilang bukan sosok yang berapi-api di pinggir lapangan. Namun, taktiknya kali ini bisa meredam serangan yang brtubi-tubi dari STKIP, meski di babak pertama tiga gol masuk ke gawang UI.
“Kebetulan, untuk evaluasi biasanya kami mulai dari offense,” buka Naufal, merangkum perjalanan UI Putri di fase Regional Jakarta. “Di match pertama kami bisa cetak gol, tapi match kedua lawan UPI, defense kita kurang bagus. Babak pertama cuma kebobolan tiga, babak kedua malah bertambah jadi tujuh gol.”
Ucapan itu mengalir apa adanya, tanpa menyalahkan siapa pun. Murni refleksi seorang pelatih yang paham betul batas dan potensi timnya.
Di pertandingan terakhir, UI tampil berbeda. Lebih rapi, lebih berani bermain terbuka, dan lebih agresif. Secara hitung-hitungan head-to-head, peluang lolos sebenarnya masih ada. Namun keberuntungan memang belum memihak mereka.
“Hari ini defense kami bagus lagi, tapi gagal cetak gol. Permainan lebih open karena sebenarnya head-to-head masih bisa bawa kami ke nasional. Tapi ya, kami kurang beruntung. Jadi kami terima hasilnya.” tambah Naufal yang juga alumnus UI.
Sebagai pelatih, Naufal tidak menutup-nutupi titik lemah timnya. Ia kembali menegaskan apa yang menurutnya paling krusial. “Evaluasinya simpel, offense kami kurang bagus hari ini,” ujar pelatih yang akrab disapa Gope itu.
Namun bagian paling menarik muncul ketika ia ditanya soal masa depan. Apakah UI akan kembali turun di Campus League tahun depan? Mengingat UI bukan kampus yang mengandalkan atlet beasiswa atau basis non-akademis yang kuat, jawabannya justru mengejutkan dan memberikan harapan bagi para pendukung The Yellow Jacket.
“Kami optimistis. Dibanding kampus lain yang punya tim futsal atau UKM futsal besar, kami sebenarnya sudah prediksi hasilnya bakal mirip-mirip,” kata Naufal.
Kalimat berikutnya menjadi highlight, menggambarkan kultur UI yang khas, yakni bermain bukan karena tuntutan, tetapi karena keinginan.
“Kami ikut karena kami meluangkan apa yang anak-anak mau. Pertama, ikut turnamen. Apa pun hasilnya. Setidaknya dibanding kampus beasiswa lain, mungkin kami satu-satunya kampus di sini yang bukan beasiswa. Jadi kami cukup percaya diri untuk tahun depan ikut lagi.” tegasnya.
Secara historis, nama UI sebetulnya pernah melahirkan pemain futsal ternama. Tely Sarendra, alumni Prodi Sejarah FIB UI itu pernah membela Timnas Futsal Indonesia di level internasional.
Meski, benar UI bukan kampus berbasis atlet, tetapi mereka tidak "kosong-kosong" amat dalam melahirkan atlet.
Tahun ini, hasilnya memang tak memihak UI. Akan tetapi, musim depan, UI balik lagi tetapi dengan cerita baru yang siap ditulis.
Belum ada jadwal pertandingan tersedia
Campus League 2026 merupakan platform kompetisi olahraga, akademik, dan pengembangan komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia. Kami menyelenggarakan turnamen antar-perguruan tinggi nasional untuk cabang olahraga futsal, bola basket, dan bulu tangkis (badminton), serta kompetisi seni kreatif (art competition). Melalui program pembinaan student-athlete, kami fokus menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan performa akademis di ruang kelas.
Setiap partisipan diwajibkan memenuhi kriteria indeks prestasi kumulatif (IPK) minimum dan menyelesaikan aksi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi bersama berbagai universitas terbaik di Indonesia dan didukung oleh sponsor terkemuka, kami berkomitmen melahirkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berintegritas tinggi, berjiwa sosial, dan siap bersaing di kancah profesional dunia kerja.