Kota Jakarta Barat
Ada Investasi Besar dan Mimpi Jangka Panjang

Keberhasilan Tim Basket Universitas Bina Nusantara (Binus) meraih gelar juara putri dan runner up putra dalam Basketball Campus League Season 1 Regional Jakarta ternyata merupakan buah dari berjalannya program pengembangan dan pembinaan student-athlete yang mereka miliki.
UPH Basketball Court, Tangerang, Banten, menjadi saksi bagaimana The Stingers menjelma menjadi salah satu kekuatan baru basket kampus di Indonesia. Kehadiran banyak pemain muda bertalenta membuat tim ini sering disebut sebagai "Super Team" oleh para pesaingnya.
Namun bagi Binus, tujuan mereka ternyata jauh lebih besar daripada sekadar mengumpulkan pemain terbaik. “Apa yang mau kami kejar sejalan dengan visi Binus, yaitu fostering and empowering society in building and serving the nation. Kami mau mendapatkan talent-talent terbaik untuk dikembangkan, jadi tidak berhenti hanya didapatkan,” ujar Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Binus University, Prof. Dr. Yohannes Kurniawan, Minggu (7/6).
Menurutnya, target yang ingin dicapai tidak berhenti di level kampus atau nasional. “Kami ingin mereka bukan hanya juara nasional, tapi ke depan bisa mewakili Indonesia, menjadi juara Asia bahkan juara dunia. Tapi tentunya semua itu perlu pembinaan,” lanjutnya.
Merekrut Talenta Terbaik, Membina dengan Sistem
Program student-athlete Binus putra mulai dibentuk tiga tahun lalu, sementara tim putri berjalan dua tahun terakhir. Sejak awal, fokus utama mereka bukan hanya merekrut pemain terbaik dari berbagai daerah, tetapi juga memastikan proses pengembangan berjalan secara sistematis.
“Kami bukan hanya merekrut the best talent, tapi juga membina mereka. Coaching program kami berjalan sistematis. Setiap hari mereka latihan, diberikan nutrisi, vitamin, pembinaan fisik, dan tentu pembinaan akademik juga,” jelas Yohannes.
Di Binus, atlet tidak hanya dinilai dari performa di lapangan. Status mereka sebagai mahasiswa tetap menjadi prioritas utama. “Kami ingin mereka sukses dalam prestasi non-akademik, tapi juga sukses kuliahnya dan lulus tepat waktu,” katanya.
Full Scholarship dan Dukungan Menyeluruh
Komitmen tersebut diwujudkan melalui paket beasiswa yang tergolong sangat lengkap. Binus memberikan dukungan penuh sejak hari pertama atlet bergabung. “Semua biaya kuliah tidak ada yang dibayarkan karena full scholarship,” ungkap Yohannes.
Tak hanya itu, para atlet juga mendapatkan fasilitas tempat tinggal selama masa studi. “Mereka tinggal di asrama (dormitory) Binus secara gratis sampai selesai kuliah. Ditambah uang saku setiap bulan, nutrisi, susu, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya.”
Keberadaan asrama menjadi bagian penting dari sistem pembinaan karena mayoritas latihan dilakukan sejak pagi hari. “Kami memprioritaskan mereka tinggal di dormitory karena latihan dimulai jam enam pagi. Jadi akses ke kampus dan latihan menjadi lebih mudah,” jelasnya.
Di tengah tuntutan latihan dan kompetisi, Binus menegaskan bahwa kualitas akademik atlet harus tetap setara dengan mahasiswa lainnya. “Kami tidak mau mereka hanya berprestasi di olahraga. Mereka harus lulus dengan kualitas akademik yang sama dengan mahasiswa non-student athlete,” kata Yohannes.
Untuk memastikan hal itu, Binus menyediakan berbagai pendampingan akademik mulai dari academic counseling, mentor, hingga dukungan psikologis. “Kalau mereka kesulitan belajar, kami siapkan mentor. Kalau ada kendala akademik, ada academic counselling. Kalau ada tekanan atau stres, ada yang mendampingi mereka.”
Fleksibilitas memang diberikan kepada atlet dalam mengatur jadwal kuliah, tetapi standar akademik tetap sama. “Tugas tetap harus dikerjakan, ujian tetap harus diikuti. Kami tidak pernah mengurangi standar akademiknya.”
Berburu Talenta Sejak SMA
Kesuksesan BINUS membangun tim basket juga tidak lepas dari sistem scouting yang dilakukan jauh sebelum pemain masuk kampus. “Talent scouting kami dimulai dari melihat juara-juara SMA. Salah satunya tentu dari DBL,” ujar Yohannes.
Pemantauan bahkan dilakukan sejak pemain masih duduk di kelas 12 SMA. “Yang masuk tahun depan, kami sudah lihat dari tahun ini. Juli sampai November kami pantau, lalu Januari mereka mengikuti tes masuk.”
Menurutnya, basket dipilih sebagai fokus utama karena memiliki nilai yang sejalan dengan filosofi Binus. “Basket adalah olahraga tim. Ada kerja sama, ada kekompakan, ada penyamaan visi untuk mencapai tujuan bersama. Itu sesuai dengan value yang kami pegang.”
Besarnya dukungan yang diberikan membuat beberapa pihak menyebut Binus sebagai tim dengan investasi terbesar di basket kampus ibukota. Sebutan "Kampus Project 1M" sempat tercetus dari beberapa sumber yang ditemui Campus League.
Yohannes tidak menampik bahwa program ini memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. “Kami investasi bukan hanya biaya kuliah. Ada dormitory, nutrisi, uang saku, fasilitas latihan, pelatih, dan berbagai program pembinaan lainnya,” katanya setengah tertawa saat ditanya mengenai gurauan "Kampus Project 1M."
Namun baginya, semua itu harus dilihat sebagai investasi jangka panjang. “Kami menganggap ini investment. Tujuannya memperkuat talenta-talenta ke depan dan memberikan semangat kepada mahasiswa. Sport ini harus menjadi sesuatu yang membuat mereka bangga.”
Karena itu, regenerasi menjadi bagian penting dari program yang sedang dibangun. “Tahun depan angkatan pertama kami mulai lulus. Artinya kami harus terus membangun regenerasi supaya sistem ini berjalan berkelanjutan.”
Campus League, Wadah yang Dibutuhkan
Di luar program internal kampus, Binus juga melihat Campus League sebagai ekosistem penting bagi perkembangan basket mahasiswa Indonesia.
“Campus League mewadahi kompetisi basket antarkampus secara nasional. Itu sangat baik karena membuat setiap kampus terdorong untuk terus meningkatkan kualitasnya,” ujar Yohannes.
Menurutnya, nilai terbesar dari sebuah kompetisi bukan hanya soal menang atau kalah. “Yang penting adalah pemain bisa saling mengenal, coach bisa saling berbagi, supporter bisa berinteraksi. Itu yang membangun ekosistem basket kampus.”
Binus pun membuka peluang untuk berkontribusi lebih besar di masa depan, termasuk menjadi tuan rumah jika fasilitas olahraga yang sedang dikembangkan semakin siap.
“Kami sangat positif mendukung Campus League ke depan. Untuk pengembangan sport facilities Binus juga sangat terbuka kemungkinannya.”
Bagi Binus, membangun tim basket ternyata bukan sekadar mengejar trofi. Di balik deretan pemain berbakat dan fasilitas yang lengkap, ada visi jangka panjang untuk menciptakan atlet yang unggul di lapangan, kuat di ruang kelas, dan siap memberi dampak setelah lulus nanti. (DT)
Belum ada jadwal pertandingan tersedia

Menyatukan Pemain dari Lima Kampus Binus

Melangkah Lewat Doa, Keluarga, dan Tanggung Jawab Moral

Jelang Laga Penentuan Kontra Perbanas
Stingers Berada di Peringkat Kedua Sementara
Campus League 2026 merupakan platform kompetisi olahraga, akademik, dan pengembangan komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia. Kami menyelenggarakan turnamen antar-perguruan tinggi nasional untuk cabang olahraga futsal, bola basket, dan bulu tangkis (badminton), serta kompetisi seni kreatif (art competition). Melalui program pembinaan student-athlete, kami fokus menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan performa akademis di ruang kelas.
Setiap partisipan diwajibkan memenuhi kriteria indeks prestasi kumulatif (IPK) minimum dan menyelesaikan aksi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi bersama berbagai universitas terbaik di Indonesia dan didukung oleh sponsor terkemuka, kami berkomitmen melahirkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berintegritas tinggi, berjiwa sosial, dan siap bersaing di kancah profesional dunia kerja.