Jawa Barat
Banyak Mendapat Pengalaman dan Pembelajaran
Kerasnya persaingan Basketball Campus League The Nationals benar-benar dirasakan oleh Universitas Kristen Maranatha Bandung. Datang ke babak nasional dengan status juara Regional Bandung, Ice Bears harus menghadapi lawan-lawan terbaik dari berbagai daerah dengan karakter permainan yang berbeda.
Hingga tiga pertandingan pertama Grup B Putra, Maranatha belum berhasil meraih kemenangan. Namun, di balik hasil tersebut, ada banyak pelajaran berharga yang menjadi bekal penting untuk perkembangan tim ke depan.
Perjalanan Maranatha di The Nationals diawali dengan kekalahan 52-66 dari Universitas Bina Nusantara Jakarta (Binus). Pada laga kedua, mereka tampil jauh lebih kompetitif dan nyaris meraih kemenangan saat menghadapi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Sayangnya, laga tersebut harus ditutup Maranatha dengan dengan kekalahan selisih satu poin.
Kekalahan ketiga datang saat menghadapi Institut Perbanas, Rabu (10/6). Dalam pertandingan yang berlangsung di UPH Basketball Court, Maranatha harus mengakui keunggulan lawannya dengan skor 36-46.
Meski belum berhasil mencatat kemenangan, pelatih Maranatha Arief Gunarto atau yang akrab disapa Coach Lie Fan, melihat pengalaman di The Nationals sebagai proses pembelajaran yang sangat berharga bagi timnya.
Menurut mantan pelatih klub IBL Rajawali Medan tersebut, level persaingan di babak nasional jauh berbeda dibandingkan fase regional. Tidak hanya kemampuan teknis, kesiapan mental dan fisik juga menjadi faktor penting yang menentukan hasil pertandingan.
"Tentunya kami belajar banyak di sini, saya bilang ke anak-anak bahwa The Nationals beda dengan Regional jadi harus siap mental, fisik, dan fokus, semuanya. Hari ini kami sudah kalah tiga kali, saya bilang ‘that’s it,’ kita belajar lagi'," kata Coach Lie Fan.
Ia menilai faktor mental menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi timnya sepanjang kompetisi. Terlebih setelah kekalahan tipis dari UKSW yang masih membekas di benak para pemain.
Bagi seorang pemain basket, kekalahan dengan selisih satu poin memang sering kali terasa lebih berat dibandingkan kekalahan dengan margin yang cukup jauh. Situasi tersebut juga dirasakan para pemain Maranatha.
"Kami kemarin kalah satu poin, ya anak-anak jatuh lah. Saya tahu, saya juga bekas pemain, kalau kalah satu poin susah untuk bangun. Tapi it’s oke hari ini (Rabu), saya appreciate dengan perjuagan anak-anak,” lanjutnya.
Meski demikian, Coach Lie Fan tetap memberikan apresiasi terhadap semangat juang timnya. Ia melihat para pemain terus berusaha memberikan yang terbaik meski berada dalam situasi yang tidak mudah.
Baginya, The Nationals memberikan gambaran nyata mengenai level kompetisi yang harus dihadapi apabila ingin bersaing secara nasional. Dari sisi keterampilan individu hingga kekuatan fisik, banyak hal yang menurutnya masih perlu ditingkatkan.
"Well, saya bilang bagus. Good. Di The Nationals, wow, level keterampilan dan fisik tim-tim yang ada memang berbeda dibandingkan di Regional. Kami belajar banyak di sini. Next year lah, kami akan bangun lagi," tambahnya.
Evaluasi tersebut menjadi modal penting bagi Maranatha untuk menatap musim berikutnya. Sebagai salah satu program basket kampus yang terus berkembang, Ice Bears diyakini akan kembali lebih siap setelah mendapatkan pengalaman menghadapi tim-tim terbaik dari seluruh Indonesia.
Meski sudah dipastikan tidak bisa melangkah ke The Nationals Four, perjuangan Maranatha belum selesai. Mereka masih memiliki satu pertandingan tersisa di fase grup melawan Universitas Cenderawasih (Uncen), Kamis (11/6).
Laga tersebut menjadi kesempatan terakhir bagi Deo Conrad dan kawan-kawan untuk menutup kompetisi dengan hasil positif sekaligus membawa pulang kemenangan perdana dari The Nationals.
Coach Lie Fan menegaskan timnya akan tetap tampil maksimal. Selain untuk menjaga semangat kompetitif, ia juga mengingatkan bahwa para pemain membawa nama baik universitas yang selama ini memberikan dukungan penuh terhadap program basket kampus.
“So, kami harus selalu siap dan menjalankan tugas dengan sebaik mungkin, do the job. Kami punya tanggung jawab kepada Maranatha, sehingga semuanya harus berjalan dengan baik," tuturnya.
Menariknya, Maranatha sebenarnya sudah mempersiapkan masa depan. Coach Lie Fan mengungkapkan bahwa timnya akan kedatangan empat pemain baru melalui jalur beasiswa untuk memperkuat skuad musim depan.
Meski begitu, ia memilih tetap realistis dan fokus pada proses yang harus dijalani satu per satu. Baginya, target besar hanya bisa dicapai jika tim mampu menyelesaikan setiap tahapan dengan baik.
"Well, do the best aja, satu-satu dulu. Fokus kami regional dulu, kalau di situ kalah ya percuma juga,” tutupnya. (GAP)
Belum ada jadwal pertandingan tersedia
Raih 2 Penghargaan Individu di Campus League Basketball Season 1
Kerasnya The Nationals Jadi Pelajaran bagi Deo

The Ice Bears Raih Poin Positif Berkat Kerja Kolektif
Ice Bears Putri Raih Kemenangan Perdana
Campus League 2026 merupakan platform kompetisi olahraga, akademik, dan pengembangan komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia. Kami menyelenggarakan turnamen antar-perguruan tinggi nasional untuk cabang olahraga futsal, bola basket, dan bulu tangkis (badminton), serta kompetisi seni kreatif (art competition). Melalui program pembinaan student-athlete, kami fokus menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan performa akademis di ruang kelas.
Setiap partisipan diwajibkan memenuhi kriteria indeks prestasi kumulatif (IPK) minimum dan menyelesaikan aksi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi bersama berbagai universitas terbaik di Indonesia dan didukung oleh sponsor terkemuka, kami berkomitmen melahirkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berintegritas tinggi, berjiwa sosial, dan siap bersaing di kancah profesional dunia kerja.