Jawa Barat
Kerasnya The Nationals Jadi Pelajaran bagi Deo
Basketball Campus League The Nationals bukan sekadar ajang kompetisi bagi Likemo Victor Deo Conrad. Bagi pemain Universitas Kristen Maranatha Bandung itu, kompetisi ini menjadi kesempatan penting untuk mengukur kemampuan sekaligus mempersiapkan diri menyambut musim baru Indonesia Basketball League (IBL).
Deo datang ke The Nationals dengan status pemain aktif IBL. Musim lalu, ia menjalani tahun pertamanya bersama Rajawali Medan. Sebagai rookie, kesempatan bermain memang belum datang dalam jumlah besar. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi modal penting untuk terus berkembang.
Sepanjang musim IBL 2025, Deo tampil dalam tujuh pertandingan dengan total 36 menit bermain. Dari kesempatan tersebut, ia membukukan tujuh poin, dua assist, dan tujuh rebound.
Meski statistiknya belum mencolok, Deo memandang musim perdananya sebagai proses pembelajaran. Karena itu, setiap pertandingan yang dijalani bersama Maranatha di Basketball Campus League The Nationals menjadi bagian dari persiapan menuju IBL musim depan.
Menurut Deo, kompetisi Basketball Campus League The Nationals ini memberinya banyak gambaran mengenai aspek permainan yang masih perlu ditingkatkan.
"Deo bisa melihat kemampuanku itu di mana saja, plusnya di mana lalu minusnya di mana. Jadi Deo bisa menambah latihan saat off-season nanti," ujarnya selepas pertandingan melawan Institut Perbanas, Rabu (10/6).
Setelah menyelesaikan The Nationals, Deo akan kembali ke Medan untuk mempersiapkan diri menghadapi musim baru IBL. Ia mengaku banyak mendapatkan masukan dari para pelatih selama kompetisi berlangsung.
Evaluasi tersebut akan menjadi bahan penting dalam program latihan pribadinya selama masa jeda kompetisi.
"Sebagai pemain kampus, Deo akan pelajari game-game di sini (The Nationals). Jadi Deo dikasih tahu sama pelatih di mana kurangnya, lebihnya. Buat bersaing juga nanti," lanjutnya.
Ingin Menang di Laga Terakhir
Namun, perjalanan Maranatha di The Nationals musim ini memang tidak berjalan mudah. Hingga tiga pertandingan pertama Grup B, Ice Bears belum berhasil meraih kemenangan.
Mereka membuka turnamen dengan kekalahan 52-66 dari Universitas Bina Nusantara (Binus). Pada pertandingan kedua, Maranatha tampil lebih kompetitif dan hanya kalah satu angka dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).
Harapan untuk bangkit kembali muncul saat menghadapi Institut Perbanas. Sayangnya, Maranatha kembali harus mengakui keunggulan lawan setelah kalah dengan skor 36-46.
Bagi Deo, hasil tersebut tidak lepas dari tingginya level persaingan di The Nationals. Seluruh tim yang tampil merupakan wakil terbaik dari regional masing-masing dan datang dengan persiapan yang sangat matang.
Ia merasakan langsung perbedaan intensitas permainan dibandingkan kompetisi regional.
"Kalau menurut Deo, di sini permainannya jauh lebih physical,” buka Deo menceritakan bagaimana gambaran The Nationals.
"Selain itu, tim-tim yang ada juga lebih paham taktik dan gameplay. Mereka tahu targetnya siapa, pemain kuncinya siapa, dan bagaimana cara membacanya. Mereka benar-benar mempersiapkan pertandingan dengan detail," ujarnya.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar di The Nationals adalah bagaimana setiap tim mampu membaca kekuatan lawan secara spesifik. Karena itu, ketergantungan terhadap satu atau dua pemain menjadi sesuatu yang sulit dipertahankan.
Deo menilai sebuah tim harus memiliki kedalaman skuad yang baik agar tetap kompetitif sepanjang turnamen.
"Jadi kita tidak bisa mengandalkan satu atau dua orang saja. Semua pemain harus kompak. Harus ada pemain lain yang siap saat ada teman yang dijaga ketat atau tidak bisa bermain. Semua harus siap berkontribusi," katanya.
Saat ditanya mengenai penyebab Maranatha belum berhasil meraih kemenangan, Deo melihat faktor mental dan konsistensi permainan menjadi salah satu tantangan yang dihadapi tim juara Regional Bandung itu.
Menurutnya, Maranatha sebenarnya sempat menunjukkan permainan yang baik, terutama pada pertandingan melawan UKSW. Namun mereka gagal mempertahankan momentum hingga akhir laga.
“Di game pertama mungkin kami agak meremehkan situasi. Lalu di game kedua sebenarnya kami sudah bermain bagus, tapi di momen tertentu kami jatuh. Harusnya kami bisa memenangi beberapa possession penting, tapi malah lepas. Akhirnya momentum berbalik," jelasnya.
Meski demikian, Deo tetap melihat banyak hal positif yang bisa dibawa pulang oleh Maranatha dari pengalaman tampil di The Nationals.
Kini fokus mereka tertuju pada satu pertandingan terakhir melawan Universitas Cenderawasih (Uncen), Kamis (11/6). Bagi Deo, laga tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar dibanding sekadar mengejar kemenangan pertama.
Pertandingan itu akan menjadi laga terakhirnya bersama tim basket Maranatha karena ia sudah memasuki tahun terakhir perkuliahan. Karena itu, ia ingin menutup perjalanan kampusnya dengan hasil terbaik.
"Kalau dari Deo, pengennya teman-teman bisa ambil satu kemenangan untuk Maranatha. Karena kami sudah jauh-jauh datang ke The Nationals dan berjuang bareng-bareng. Plus ini game terakhir Deo di kuliah. Jadi Deo pengennya bawa satu kemenangan saja untuk Maranatha dan untuk Kota Bandung," tutupnya.
Apapun hasil yang diraih nanti, The Nationals telah menjadi pengalaman berharga bagi Deo.
Pengalaman menghadapi tim-tim terbaik dari berbagai regional menjadi bekal baginya untuk terus berkembang, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi persaingan yang lebih ketat bersama Rajawali Medan di musim IBL mendatang. (GAP)
Belum ada jadwal pertandingan tersedia
Raih 2 Penghargaan Individu di Campus League Basketball Season 1
Banyak Mendapat Pengalaman dan Pembelajaran

The Ice Bears Raih Poin Positif Berkat Kerja Kolektif
Ice Bears Putri Raih Kemenangan Perdana
Campus League 2026 merupakan platform kompetisi olahraga, akademik, dan pengembangan komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia. Kami menyelenggarakan turnamen antar-perguruan tinggi nasional untuk cabang olahraga futsal, bola basket, dan bulu tangkis (badminton), serta kompetisi seni kreatif (art competition). Melalui program pembinaan student-athlete, kami fokus menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan performa akademis di ruang kelas.
Setiap partisipan diwajibkan memenuhi kriteria indeks prestasi kumulatif (IPK) minimum dan menyelesaikan aksi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi bersama berbagai universitas terbaik di Indonesia dan didukung oleh sponsor terkemuka, kami berkomitmen melahirkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berintegritas tinggi, berjiwa sosial, dan siap bersaing di kancah profesional dunia kerja.