Campus League 2026 merupakan platform kompetisi olahraga, akademik, dan pengembangan komunitas mahasiswa terbesar di Indonesia. Kami menyelenggarakan turnamen antar-perguruan tinggi nasional untuk cabang olahraga futsal, bola basket, dan bulu tangkis (badminton), serta kompetisi seni kreatif (art competition). Melalui program pembinaan student-athlete, kami fokus menyeimbangkan prestasi di lapangan dengan performa akademis di ruang kelas.
Setiap partisipan diwajibkan memenuhi kriteria indeks prestasi kumulatif (IPK) minimum dan menyelesaikan aksi kontribusi sosial nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi bersama berbagai universitas terbaik di Indonesia dan didukung oleh sponsor terkemuka, kami berkomitmen melahirkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berintegritas tinggi, berjiwa sosial, dan siap bersaing di kancah profesional dunia kerja.
Kab. Sumedang
Gelar Bandung diraih, The Nationals menanti dalam hitungan hari

Maria Veronica Ngadien Prawesti sukses mengamankan gelar juara Tunggal Putri Badminton Campus League Regional Bandung. Namun, kemenangan tersebut tidak membuat student-athlete Universitas Padjadjaran (Unpad) itu memiliki banyak waktu untuk beristirahat. Tantangan berikutnya sudah menanti di The Nationals dengan waktu persiapan hanya sekitar tiga hingga empat hari.
Prawes mengungkapkan bahwa pengalaman bertanding di Campus League memiliki tantangan tersendiri, meski dirinya sudah terbiasa tampil dalam kompetisi nasional seperti SIRNAS. “Kurang lebih sama, namun saat bawa nama kampus ini kan jadi berbeda, seperti atlet-atletnya itu pasti juga beda,” ujarnya dalam press conference di Media Center Campus League, GOR KONI Bandung, Rabu (16/9).
Menurutnya, perbedaan bukan hanya terletak pada level kompetisi, tetapi juga karakter lawan dan atmosfer pertandingan ketika dirinya membawa nama kampus. Ada tekanan tersendiri ketika berhadapan dengan atlet yang juga membawa identitas perguruan tinggi masing-masing. “Cuma tekanannya ya lebih tegang ya karena ini bawa nama kampus,” katanya.
Selain atmosfer pertandingan, Prawesti juga harus beradaptasi dengan sistem poin baru yang diterapkan dalam kompetisi. Perubahan tersebut membuat pertandingan terasa lebih cepat sehingga atlet dituntut untuk lebih sigap dalam mengambil keputusan di lapangan. “Kesulitan pasti ya, karena jadi lebih cepat semua yang berhubungan dengan waktu,” ungkapnya.
“Tadi sempat struggling karena kayak saya banyak mati sendiri aja,” kata Prawesti.
Ia juga menilai dirinya belum cukup aman dalam memainkan beberapa situasi di lapangan. Tekanan pertandingan final membuatnya bermain lebih berisiko sehingga sejumlah pukulan justru berakhir menjadi kesalahan sendiri.
“Tadi kurang safety mainnya, jadi sambil tegang juga,” lanjutnya.
Meski demikian, Prawesti mampu melewati situasi tersebut dan memastikan dirinya menjadi juara Regional Bandung. Pengalaman di final sekaligus menjadi bahan evaluasi penting sebelum dirinya kembali bertanding di level nasional.
Pasalnya, waktu yang tersedia untuk mempersiapkan diri menuju The Nationals sangat singkat. Setelah menyelesaikan perjalanan di Bandung, Prawesti hanya memiliki waktu sekitar tiga hingga empat hari sebelum kembali menghadapi persaingan dari para juara regional lainnya.
“Untuk latihan sih latihan seperti biasa,” tutur Prawesti.
Ia menyadari The Nationals akan menghadirkan tantangan berbeda karena berisi student-athlete terbaik dari berbagai regional. Salah satu hal yang perlu diantisipasi adalah menghadapi lawan yang belum pernah ditemuinya sebelumnya.
Ketika ditanya mengenai calon lawan dari Regional Semarang, Prawesti menyebut salah satu nama yang menjadi perhatian, yakni Tunggal putri Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Alfira Deanika, yang berhasil menjuarai Badminton Campus League Regional Semarang.
Menariknya, keduanya belum pernah bertemu dalam pertandingan sebelumnya. “Belum pernah ketemu, mungkin nanti pertama kali bertemu,” ujarnya.
Sementara itu, persiapannya bersama Unpad untuk menghadapi Campus League dilakukan sekitar dua minggu. Selebihnya, Prawesti lebih banyak menjalani program latihan di lingkungan klub.
“Kalau untuk latihan di UKM Unpad sendiri, persiapannya hanya dua minggu,” jelasnya.
Bagi Prawesti, pembinaan di lingkungan kampus tetap menjadi bagian penting dalam perjalanannya sebagai student-athlete. Ia melihat kegiatan mahasiswa dan pembinaan olahraga di kampus memberikan dukungan bagi atlet untuk tetap berkembang di tengah aktivitas akademik.
“Jadi pembinaan di kampus itu ya, membuat kegiatan mahasiswa jadi lebih baik,” pungkasnya. (DT)
Yogyakarta
.png&w=3840&q=75)
Universitas Jenderal Soedirman
23 Oktober 2026
09.00 WIB

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Universitas Tidar
23 Oktober 2026
14.00 WIB

Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto

Universitas Tidar
23 Oktober 2026
15.45 WIB

Universitas Gadjah Mada

Ingin Tampil Lebih Lepas Hadapi Unggulan Pertama

Kalahkan Alya Zafira dari Gunadarman dengan Dua Gim
Maria Shinta Dampingi Prawesti Sejak Usia Dini
Kalahkan UPI dengan Skor 65-47